Mudjoko

Laki-laki, XX tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>tritunggaljayakudus.blogspot.com
=>tritunggaljaya-kudus.blogspot.com
=>tritunggal-jayakudus.blogspot.com
=>mudjoko.kds@gmail.com
::
Start
Mudjoko™ Kangmas Djoko
Shutdown

Navbar bawah

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Oktober 2014

Cara Sederhana Mengobati Bisul

Cara Sederhana Mengobati Bisul
Terkena bisul sangat tidak menyenangkan karena tempat bisul berada membuat rasa kulit seperti terbakar. Apalagi bisul tersebut terjadi pada bagian wajah anda. Selain menyakitkan juga membuat anda menjadi minder.


Dibawah ini adalah cara menyembuhkan bisul dengan menggunakan obat rumahan seperti yang dilansir oleh health liputan 6.

Obat bisul yang cukup efektif adalah dengan menggunakan kain penyeka muka dalam keadaan hangat. Lap sekitar bisul Anda dengan kain hangat selama sekitar 10 menit. Lakukan secara rutin sebanyak 3-4 kali sehari. Hal ini berfungsi untuk meningkatkan jumlah sirkulasi darah di sekitar bisul.

Apabila bisul tersebut pecah, tutup bagian lukanya dengan menggunakan kain kasa steril agar tidak terjadi penyebaran infeksi bisul. Cuci juga tangan anda dengan menggunakan air hangat hingga bersih atau dengan menggunakan sabun cuci tangan penghilang bakteri.

Sebaiknya jangan mencoba untuk memecahkan bisul yang sudah cukup besar dengan tangan Anda sendiri agar tidak menyebabkan infeksi. Jika bisul sudah cukup membesar dan terasa lembut dan kenyal, sebaiknya Anda pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan.

Cara lain mengobati bisul adalah dengan menggunakan obat salep anti bisul. Namun, penggunaan salep ini lebih efektif untuk bisul yang baru tumbuh. Tujuannya, agar bisul cepat matang dan permukaan menjadi kendur.


Itulah cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengobati bisul yang baru muncul. Semoga bermanfaat.
Read More --►

Jumat, 12 September 2014

Pengertian Gonore atau Kencing Nanah, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

Pengertian Gonore atau Kencing Nanah, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan
Gonore pada mata bayi
Gonore atau Kencing Nanah, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan. Kencing nanah atau gonore adalah salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri tersebut menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.


Penyakit ini menginfeksi lapisan epitel (lapisan paling atas dari suatu jaringan). Akan sangat bahaya bila tidak diobati karena infeksi dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam. Biasanya membentuk koloni di daerah mukosa, orofaring, dan anogenital. Penyakit ini banyak menyerang orang usia muda, belum menikah, dan pendidikan rendah. Mayoritas terjadi pada perempuan. Namun gejala infeksi lebih sering timbul pada laki-laki. Infeksi pada anorektal dan faring sering terjadi pada laki-laki yang homoseksual.

Neisseria gonorrhoeae merupakan bakteri gram negatif, nonmotil, tidak membentuk spora, berkembang berkoloni membentuk diplokokus, atau pun tunggal monokokus. Manusia merupakan satu-satunya inang alami bakteri ini. Proses penularan bakteri membutuhkan kontak langsung dengan mukosa tubuh, bisa lewat hubungan seks, atau penggunaan toilet duduk. Bakteri ini menempel dengan pilinya.

Gejala

Gejala pada pria

Gejala pada pria awalnya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis.

Gejala pada wanita

Gejala awal timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim,rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual.

Gejala pada homoseksual

Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus (seks anal) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita akan merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, serta tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.

Gejala akibat oral seks

Hubungan seksual melalui mulut seks oral akan menyebabkan terjadinya gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Pada umumnya tidak menimbulkan gejala, namun kadang-kadang dapat menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan untuk menelan.

Gejala bila terkena mata

Jika cairan terinfeksi terkena mata dapat menyebabkan terjadinya infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya pada saat proses persalinan. Hal ini dapat menyebabkan mata bayi bengkak pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan.

Pengobatan

Pengobatan awal dengan memberikan antibiotik. Bila keadaan tidak membaik, karena ada beberapa golongan antibiotik yang sudah resisten terhadap gonore yaitu quinolones, Penisilin, Tetrasiklin, dan obat-obat golongan sulfa. Disarankan untuk kultur dari spesimen, serta mengganti golongan obat tersebut.

Pencegahan
  1. Hindari Seks Bebas.
  2. Berhubungan seks secara monogami, pastikan pasangan tidak terinfeksi.
  3. Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit.
  4. Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
  5. Segera obati bila ada keluhan seperti di atas.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kencing_nanah diakses tanggal 12 september 2014
Read More --►

Rabu, 27 Agustus 2014

5 Faktor Aneh Penyebab Diare

5 Faktor Aneh Penyebab Diare
5 Faktor Aneh Penyebab Diare. Faktor umum penyebab diare biasanya berasal dari makanan yang tercemari oleh bakteri. Sehingg ketika dilakukan pemeriksaan oleh dokter, dapat langsung diketahui penyebabnya. Namun bagaimana apabila anda tiba-tiba terkena diare tanpa memakan makanan yang tercemari bakteri atau makanan yang aneh sebelumnya? Mungkin berikut adalah faktor aneh penyebab diare.


Seperti yang dilansir oleh healt kompas berikut 5 faktor aneh penyebab diare:

1. Sorbitol
Sorbitol merupakan pemanis buatan yang dapat ditemukan dalam produk-produk bebas gula seperti permen karet, permen, obat batuk, minuman olahraga, jus, dan selai. Seorang ahli gastroenterologis Anish Sheth dan juga sebagai penulis buku "What's Your Poo Telling You?" mengatakan bahwa sorbitol saat dicerna ia akan menarik air di usus sehingga dapat menyebabkan diare.

Untuk mengatasinya anda dapat memperhatikan label-label produk tertentu dan hindari yang mengandung pemanis buatan ini.

2. Olahraga terlalu keras
Selain faktor makanan berolahraga juga merupakan salah satu faktor diare. Seperti angkat beban berat, lari atau besepeda jarak jauh. latihan terlalu keras tersebut akan mengalihkan suplai darah yang harusnya ke sistem pencernaan menjadi ke otot. Hal ini dapat membuat timbul rasa kram pada perut dan kotoran berdarah.

Mereka yang telah terbiasa melakukan olahraga keras tidak akan terkena diare karena faktor tersebut. Namun jika diare karena olahraga yang terlalu keras terjadi secara terus menerus segera konsultasi dengan dokter.

3. Giardia
Salah satu penyebab diare adalah parasit pada usus yang disebut Giardia. Aktivitas mendaki, berkemah, berenang di danau air tawar, atau minum air yang belum dimurnikan dapat menyebabkan parasit tersebut masuk dan menyebabkan diare.

4. Antibiotik
Antibiotik dapat pula menyebabkan diare. Hal ini karena antibiotik dapat mengubah keadaan flora dalam usus, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat. Ketidakseimbangan ini kemudian mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mencerna makanan. Pencernaan yang terganggu dapat menyebabkan terjadinya diare.

5. Minum alkohol
Meminum alkohol terlalu banyak dapat juga menyebabkan diare. Karena kandungan karbohidrat dalam alkohol tersebut sangat tinggi yang dapat menyebabkan fermentasi berlebihan pada usus. Hal tersebut akan memicu timbulnya gas berlebihan yang memicu rasa ingin BAB. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dengan perbanyak minum air putih.

Itulah beberapa faktor aneh penyebab diare yang belum kita ketahui. Semoga bermanfaat.
Read More --►

Selasa, 05 Agustus 2014

Pengertian Paru-paru Basah (Radang paru-paru), Gejala Penyebab dan Pencegahan

paru paru basah atau radang paru paru
Pengertian penyakit Paru-paru Basah atau Radang paru-paru, Gejala Penyebab dan Pencegahan. Sebutan paru-paru basah lebih dikenal di masyarakat. Namun sebenarnya penyakit ini dalam istilah medisnya adalah radang paru-paru atau pneumonia. Pneumonia adalah kondisi inflamasi pada paru utamanya memengaruhi kantung-kantung udara mikroskopik yang dikenal sebagai alveolus.  Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri dan lebih jarang mikroorganisme lainnya, obat-obatan tertentu, dan kondisi lain seperti penyakit autoimun.



Beberapa kasus paru paru basah terjadi oleh karena menghirup tetesan kecil yang mengandung organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Tetesan ini masuk ke udara ketika seseorang terinfeksi dengan kuman melalui batuk atau bersin. Dalam kasus lain, disebabkan ketika bakteri atau virus yang biasanya hadir di mulut, tenggorokan, atau hidung tanpa sengaja memasuki paru. Biasanya, respon refleks tubuh dan sistem kekebalan tubuh mereka akan mencegah organisme disedot dari organisme penyebab paru-paru basah
Setelah organisme memasuki paru paru, mereka biasanya menetap di kantung udara dan bagian-bagian dari paru-paru di mana mereka berkembang pesat jumlahnya. Pada daerah ini paru paru kemudian menjadi terisi dengan cairan dan nanah (sel-sel inflamasi tubuh) karena tubuh berusaha untuk melawan infeksi.

Pneumonia mengisi alveoli paru-paru dengan cairan, menghalangi oksigenasi. Alveolus di sisi kiri dalam kondisi normal, sedangkan yang di sisi kanan penuh terisi cairan akibat pneumonia.
Pneumonia sering berawal sebagai infeksi saluran pernapasan atas yang kemudian berpindah ke saluran pernapasan bawah.

Faktor risiko dan kondisi yang memengaruhi pneumonia mencakup: merokok, imunodefisiensi, alkoholisme, penyakit obstruktif paru kronis, penyakit ginjal kronis, dan penyakit hati. Penggunaan obat-obatan yang bersifat menekan asam seperti penghambat pompa proton atau penyekat H2- dikaitkan dengan peningkatan risiko pneumonia. Usia lanjut juga berpengaruh pada pneumonia.

Gejala

Gejala paru paru basah meliputi :

  1. Batuk, biasa disertai dengan dahak
  2. Nyeri dada
  3. Demam
  4. Kesulitan bernapas
  5. Telapak tangan dan kaki terasa dingin dan sering basah
  6. Dada terasa sakit saat batuk

Untuk mengetahui sesorang terkena radang paru-paru dapat menggunakan alat diagnostik mencakup rontgen dan pengambilan kultur dari sputum.

Beberapa vaksin untuk mencegah jenis pneumonia tertentu kini sudah tersedia. Pengobatan yang dilakukan bergantung pada penyebab dasarnya. Dugaan pneumonia bakterial diobati dengan antibiotik. Jika pneumonianya parah, penderita biasanya dirujuk ke rumah sakit.

Pasien pneumonia yang menular biasanya menderita batuk produktif, demam yang disertai menggigil bergetar, sulit bernapas, nyeri dada yang tajam atau menghunjam selama menarik napas dalam-dalam, dan peningkatan laju respirasi. Pada manula, adanya kebingungan menjadi tanda yang paling utama. Tanda-tanda dan gejala khusus pada anak-anak balita yaitu demam, batuk, dan napas yang cepat atau sulit.

Penyebab

Penyebab utama pneumonia adalah bakteri dan virus. Penyebab yang disebabkan oleh fungi dan parasit sangat jarang dijumpai.  Berikut penyebab radang paru-paru :

Bakteri
Bakteri adalah penyebab paling umum dari pneumonia dapatan masyarakat (CAP), dengan Streptococcus pneumoniae berhasil diisolasi dalam hampir 50% kasus yang ada. Bakteri lain yang umum diisolasi mencakup termasuk: Haemophilus influenzae dalam 20% kasus, Chlamydophila pneumoniae dalam 13% kasus, dan Mycoplasma pneumoniae dalam 3% kasus Staphylococcus aureus; Moraxella catarrhalis; Legionella pneumophila dan Basilus gram-negatif.

Virus
Sekitar sepertiga kasus pneumonia pada orang dewasa disebabkan oleh virus dan sekitar 15% kasusnya terjadi pada anak-anak.

Fungi
Pneumonia yang disebabkan oleh jamur jarang dijumpai, namun lebih sering muncul pada individu yang menderita sistem kekebalan lemah akibat AIDS, obat penekan kekebalan, atau masalah medis lainnya.

Parasit
Beragam parasit dapat memengaruhi paru-paru, termasuk: Toxoplasma gondii, Strongyloides stercoralis,Ascaris lumbricoides, dan Plasmodium malariae. Berbagai organisme ini biasanya memasuki tubuh melalui kontak langsung dengan kulit, pencernaan, atau melalui vektor serangga.

Idiopatik
Pneumonia interstisial idiopatik atau pneumonia yang tidak menular merupakan kelas penyakit paru difus.

Pencegahan

Berhenti merokok dan menurunkan polusi udara di dalam ruangan, seperti yang berasal dari memasak di dalam ruangan dengan menggunakan kayu atau kotoran sapi. Merokok tampaknya menjadi faktor risiko terbesar untuk pneumonia pneumokokal pada orang dewasa yang seharusnya sehat. Kebersihan tangan dan menutupi batuk dengan lengan tangan bisa juga menjadi sarana pencegahan yang efektif. Pemakaian masker operasi oleh mereka yang sakit juga bisa mencegah penyakit.

Mengobati penyakit dasarnya (seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan malnutrisi) dengan tepat bisa menurunkan risiko pneumonia. Pada anak-anak usia di bawah 6 bulan pemberian susu ibu ekslusif menurunkan baik risiko maupun keparahan penyakit. Di kalangan mereka yang menderita HIV/AIDS serta hitungan CD4 kurang dari 200 sel/uL, antibiotik trimetoprim/sulfametoksazol menurunkan risiko Pneumonia pneumosistis dan bisa juga berguna untuk pencegahan bagi mereka yang memiliki gangguan kekebalan tubuh tapi tidak mempunyai HIV.

Menguji wanita hamil untuk Streptokokus Grup B dan Klamidia trakomatis, dan memberikan pengobatan antibiotik, bila diperlukan, menurunkan risiko tingkat pneumonia pada bayi sarana pencegahan transmisi dari ibu ke anak bisa juga efisien. Di kalangan lansia yang ringkih, perawatan kesehatan mulut yang baik bisa menurunkan risiko pneumonia aspirasi.

Berolahraga juga merupakan salah satu pencegahan pneumonia. Keluarnya keringat akan mengurangi radang paru paru.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Radang_paru-paru diakses pada tanggal 5 agustus 2014
http://www.kesehatan123.com/1922/mengenal-penyakit-paru-paru-basah/ diakses pada tanggal 5 agustus 2014
http://paru-paru.com/gejala-paru-paru-basah/ diakses pada tanggal 5 agustus 2014
Read More --►

Minggu, 13 Juli 2014

Pengertian Penyakit Tetanus, Gejala, Pencegahan dan Pengobatan

Pengertian Penyakit Tetanus, Gejala, Pencegahan dan Pengobatan
Pengertian Penyakit Tetanus, Gejala, Pencegahan dan Pengobatan. Kata tetanus diambil dari bahasa yunani yaitu tetanus dari teinein yang artinya menegang. Penyakit tetanus adalah penyakit yang menyerang sistem urat saraf dan otot yang menyebabkan saraf dan otot menjadi kaku (rigid). Tetanus juga dikenal dengan penyakit lockjaw.


Kitasato adalah orang pertama yang berhasil mengisolasi organisme penyebab tetanus dan juga melaporkan bahwa toksinnya dapat dinetralisasi dengan antibodi yang spesifik.


Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi.

Penyakit ini adalah penyakit infeksi di saat spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang, dan paralisis pernapasan.

Penyebab

Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode inkubasi). Clostridium tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk spora, dan berbentuk drumstick. Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam. Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian sistem saraf)

Bakteri penyebab tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui cara-cara sebagai berikut :
  1. Melalui luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan local
  2. Tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah
  3. Lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah
  4. Trauma pada jari tangan atau jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.

Pada keadaan anaerobik, spora bakteri ini akan bergerminasi menjadi sel vegetatif. Selanjutnya, toksin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa. Toksin tersebut akan beraktivitas pada tempat-tempat tertentu seperti pusat sistem saraf termasuk otak. Gejala kronis yang ditimbulkan dari toksin tersebut adalah dengan memblok pelepasan dari neurotransmiter sehingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol. Akibat dari tetanus adalah rigid paralysis (kehilangan kemampuan untuk bergerak) pada voluntary muscles (otot yang geraknya dapat dikontrol), sering disebut lockjaw karena biasanya pertama kali muncul pada otot rahang dan wajah. Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pernapasan dan rasio kematian sangatlah tinggi.

Gejala

Masa inkubasi tetanus umumnya antara 3-12 hari, namun dapat singkat 1-2 hari dan kadang lebih satu bulan, makin pendek masa inkubasi makin buruk prognosis. Terdapat hubungan antara jarak tempat masuk kuman Clostridium tetani dengan susunan saraf pusat, dengan interval antara terjadinya luka dengan permulaan penyakit, makin jauh tempat invasi, masa inkubasi makin panjang.
Gejala penyakit tetanus bisa dibagi dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap awal
Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh merupakan gejala awal penyakit ini. Satu hari kemudian baru terjadi kekakuan otot. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menelan. Gangguan terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih berlangsung.

Tahap kedua
Gejala awal berlanjut dengan kejang yang disertai nyeri otot pengunyah (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa kaku di rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut tidak bisa dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot wajah, sehingga wajah penderita akan terlihat menyeringai (Risus Sardonisus), karena tarikan dari otot-otot di sudut mulut.
Selain itu, otot-otot perut pun menjadi kaku tanpa disertai rasa nyeri. Kekakuan tersebut akan semakin meningkat hingga kepala penderita akan tertarik ke belakang. (Ophistotonus). Keadaan ini dapat terjadi 48 jam setelah mengalami luka.

Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu penderita menjadi lambat dan sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan makanan. Penderita mengalami tekanan di daerah dada, suara berubah karena berbicara melalui mulut atau gigi yang terkatub erat, dan gerakan dari langit-langit mulut menjadi terbatas.

Tahap ketiga
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat, maka terjadilah kejang refleks. Biasanya hal ini terjadi beberapa jam setelah adanya kekakuan otot. Kejang otot ini bisa terjadi  spontan tanpa rangsangan dari luar, bisa pula karena adanya rangsangan dari luar. Misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan sebagainya. Pada awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi semakin lama akan berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang lebih sering.

Selain dapat menyebabkan radang otot jantung (mycarditis), tetanus dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah, bahkan patah tulang belakang dapat terjadi akibat adanya kejang otot hebat. Kematian biasanya terjadi akibat kegagalan fungsi pernafasan, yang umumnya 50%.  Hal ini disebabkan karena sumbatan saluran nafas, akibat kolapsnya saluran nafas, sehingga refleks batuk tidak memadai, dan penderita tidak dapat menelan.

Pengobatan

Pengobatan tetanus dengan memberikan immunoglobulin tetanus untuk menetralisir racun yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Selanjutnya diberikan Antibiotik tetrasiklin dan penisilin untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut, supaya racun yang ada mati.

Selain itu diberikan obat lainnya untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang dan mengendurkan otot-otot. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernapasan.

Untuk mengurangi nyeri diberikan kodein. Obat lainnya bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

Pencegahan

Pencegahan tetanus dengan cara vaksinasi. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Dan untuk orang sudah dewasa sebaiknya diberikan booster.
Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
  1. Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
  2. Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi
  3. Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.

Pencegahan lain dengan cara membersihkan setiap luka terutama luka tusukan yang dalam harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani. Bagi orang yang rentan terhadap luka (luka tertutup, misalnya tertusuk paku dan bukannya luka terbuka yang mengeluarkan darah mengalir) perlu dilakukan vaksinasi toksoid.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Tetanus
http://reskyandrina.blogspot.com/2012/01/clostridium-tetani.html

http://doktersehat.com/tetanus-penyakit-mematikan-karena-luka/#ixzz37L5Muqhi
Read More --►

Sabtu, 19 April 2014

Pengertian Penyakit Diare dan Penyebabnya

Pengertian Penyakit Diare dan Penyebabnya. Diare adalah sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam (atau biasa juga disebut dengan mencret. Penyakit ini penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga membunuh lebih dari 2,6 juta orang setiap tahunnya.

Penyebab

Virus dan Bakteri

Penyebab diarea pada anak dibawah 5 tahun hampir 40% disebabkan oleh mikrograf electron dari rotavirus. Selain disebabkan oleh mikrograf, kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fructose, lactose), kelebihan vitamin C, dan mengonsumsi Buah-buahan tertentu. Awal gejala biasanya mulai terasa sakit perut dan seringkali mual dan muntah. Ada beberapa kondisi lain yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari diare adalah defekasi (BAB) yang melebihi 200 gram per hari.

Selain disebabkan oleh infeksi virus diare juga seringkali akibat dari racun bakteria. Diare akan mudah sembuh bila keadaan lingkungan dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun jika penderita diare kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan.

Faktor Makanan

Faktor makanan juga merupakan penyebab dari diare. Makanan yang asam, pedas, atau bersantan sekaligus secara berlebihan dapat menyebabkan diare, karena hal ini dapat membuat usus kaget. Diare juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama pada seseorang yang mengkonsumsi alkohol tanpa makan terlebih dahulu.

Diare terjadi ketika cairan yang tidak mencukupi diserap oleh usus besar. Sebagai bagian dari proses digestasi, atau karena masukan cairan, makanan tercampur dengan sejumlah besar air. Oleh karena itu makanan yang dicerna terdiri dari cairan sebelum mencapai usus besar. Usus besar menyerap air, meninggalkan material yang lain sebagai kotoran yang setengah padat. Bila usus besar rusak / radang, penyerapan tidak terjadi dan hasilnya adalah kotoran yang berair.

Diare yang parah pada penderita dapat memicu penyakit yang lebih serius, seperti disentri, kolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu.

Faktor Cuaca

Faktor cuaca juga menjadi penyebab terjadinya diare. Kondisi cuaca yang tidak stabil, sanitasi tempat pengungsian yang buruk serta kondisi rumah yang masih kotor terkena genangan air, juga sulitnya mendapat air bersih menyebabkan mudahnya terjadi wabah diare setelah banjir. Penyakit diare yang terlihat ringan justru bisa membahayakan jiwa, karena saat tubuh kekurangan cairan, maka semua organ akan mengalami gangguan. Diare akan semakin berbahaya jika terjadi pada anak-anak.

sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Diare
Read More --►

Kamis, 17 April 2014

Pengertian Penyakit Bisul, Jenis dan Faktor Risiko

Pengertian Penyakit Bisul, Jenis dan Faktor Risiko. Dalam bahasa Latin bisul disebut abscessus yaitu penyakit karena sekumpulan nanah (neutrofil mati) yang telah terakumulasi di rongga di jaringan setelah terinfeksi sesuatu (umumnya karena bakteri atau parasit) atau barang asing (seperti luka tembakan/tikaman). Bisul adalah reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebar nya barang asing di tubuh.Salah satu penyebab bisul adalah bakteri staphylococcus aureus.

Nanah yang terjadi pada bisul, akibat dari organisme atau barang asing membunuh sel sekitarnya, mengakibatkan keluarnya toksin. Toksin tersebut menyebabkan radang, sel darah putih mengalir menuju tempat tersebut dan kemudian meningkatkan aliran darah di tempat tersebut.

Jenis Penyakit Bisul

Bisul Furunkel

Bisul jenis ini adalah infeksi kulit yang meliputi seluruh folikel rambut dan jaringan subkutaneus di sekitarnya. Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus atau bakteri lainnya dan jamur. Bisul ini Paling banyak ditemukan di daerah leher, payudara, wajah dan bokong. Akan terasa sangat nyeri jika timbul di sekitar hidung atau telinga atau pada jari-jari tangan.

Gejala furunkel ini berawal dari benjolan keras berwarna merah yang mengandung nanah. Lalu benjolan ini akan berfluktuasi dan tengahnya menjadi putih atau kuning (membentuk pustula). Biasanya disertai nyeri yang sifatnya ringan sampai sedang. Kulit di sekitarnya tampak kemerahan atau meradang. Kadang disertai demam, lelah dan tidak enak badan. Jika furunkel sering kambuhan maka keadaannya disebut furunkulosis.

Bisul Karbunkel

Bisul jenis ini merupakan sekumpulan bisul yang menyebabkan pengelupasan kulit yang luas serta pembentukan jaringan parut. Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus. Pembentukan dan penyembuhan karbunkel terjadi lebih lambat dibandingkan bisul tunggal dan bisa menyebabkan demam serta lelah karena merupakan infeksi yang lebih serius.

Paling banyak di derita oleh pria dan tepatnya di leher bagian belakang. Selain itu bisul ini mudah diderita oleh penderita diabetes, gangguan sistem kekebalan dan dermatitis.

Beberapa bisul bersatu membentuk massa yang lebih besar, yang memiliki beberapa titik pengaliran nanah. Massa ini letaknya bisa lebih dalam di bawah kulit dibandingkan dengan bisul biasa.

Penyakit ini menular dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan bisa ditularkan ke orang lain. Tidak jarang beberapa orang dalam sebuah rumah menderita karbunkel pada saat yang sama.

Berikut faktor risiko terjadinya bisul karbunkel adalah:
  1. Tingkat kebersihan yang buruk
  2. Keadaan fisik yang menurun
  3. Gesekan dengan pakaian
  4. Pencukuran.
sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bisul
Read More --►

Senin, 27 Januari 2014

Jenis Penyakit Sifilis, Penyebab, Pencegahaan dan Pengobatan

photo:www.caraobat.com
Penyakit sifilis atau biasa juga disebut dengan istilah raja singa merupakan penyakit menular dari hubungan sexual. Sifilis disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual, selain itu infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran.

Tanda dan gejala Penyakit Sifilis

Tanda dan gejala penyakit sifilis sangat bervariasi bergantung pada fase penyakit tersebut muncul. Kemunculan penyakit ini terjadi pada beberapa fase, seperti  fase primer, fase sekunder, fase laten, dan fase tersier dan bisa juga terjadi secara congenital. Fase ini disebut sebagai "peniru yang hebat" oleh Sir WilliamOsler dikarenakan kemunculannya yang bervariasi. Untuk mengetahui terkena penyakit ini, dapat dilakukan diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah, namun bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau diminum.

Fase Primer

Sekitar 3 sampai 90 hari setelah awal kedapatan (rata-rata 21 hari) luka di kulit dinamakan chancre, tampak pada saat kontak. Lesi ini biasanya (40 % dari waktu) tunggal, kokoh, tanpa rasa sakit, pemborokan kulit tanpa rasa gatal dengan dasar yang bersih serta berbatasan tajam antara ukuran 0,3 dan 3,0 cm. Walau bagaimanapun luka bisa dikeluarkan hampir dalam bentuk apapun.
Pada bentuk yang umum, luka baerkembang dari macule ke papule dan akhirnya ke erosion atau ulcer.

Kadang-kadang, lesi ganda mungkin muncul (~40%). Lesi ganda lebih umum ketika koinfeksi dengan HIV. Lesi mungkin nyeri atau perih (30%), dan bisa terjadi di luar kelamin (2–7%). Letak paling umum pada wanita adalah di cervix (44%), penis laki-laki heteroseksual (99%), dan anal serta rektal umumnya secara relatif (laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki) (34%). Pelebaran nodus limfa;(80%) sering kali terjadi di sekitar daerah infeksi, terjadi selama 10 hari setelah pembentukan tukak. Lesi dapat bertahan selama tiga hingga enam minggu tanpa pengobatan.

Fase Sekunder

Sifilis sekunder pada umumnya ditandai dengan munculnya ruam pada telapak tangan. Papules kemerah-merahan dan banyaknya nodul di badan menandai terjadinya sifilis sekunder. Sifilis sekunder seringnya terjadi empat sampai sepuluh minggu setelah infeksi primer. Sementara penyakit sekunder dapat dikenal dalam berbagai cara secara nyata, gejala-gejala paling umum berkaitan dengan kulit, selaput lendir, dan nodus limfa. Di sana mungkin terdapat kesamaan, kemerah-merahan-pink, ruam yang tidak gatal pada batang dan ekstrim, termasuk pada telapak tangan dan soles. Ruam bisa menjadi makulopapular atau pustular. Itu bisa berbentuk datar, lebar, keputih-putihan, lesi mirip kutil dikenal sebagai kondiloma latum pada selaput lendir. Semua dari endapan bakteri lesi terinfeksi. Gejala lain termasuk demam, sakit tenggorokan, malaise, berat badan turun, rambut rontok, dan sakit kepala. Jenis penyakit lainnya yang jarang terjadi termasuk hepatitis, ginjal penyakit, radang sendi, periostitis, optik neuritis, uveitis, dan interstitial keratitis.

Gejala akut biasanya diatasi setelah tiga hingga enam minggu; namun sekitar 25% orang bisa kambuh gejala sekunder. Banyak orang yang mengalami sifilis sekunder (40-85% dari wanita, 20-65% dari laki-laki) tidak melaporkan mengalami chancre dari sifilis primer sebelumnya.

Fase Laten

Sifilis laten didefinisikan seperti mengalami bukti serologis dari infeksi tanpa gejala-gejala dari penyakit. Penyakit ini dijelaskan lebih lanjut sebagai lebih awal (kurang dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) atau akhir (lebih dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) di Amerika serikat. Amerika serikat memanfaakkan memotong dari dua tahun dini dan akhir sifilis laten. Awal sifilis laten bisa mempunyai gejala- gejala kambuh. Akhir sifilis laten adalah asimptomatik, dan tidak menular seperti awal sifilis laten.

Fase Tersier

Sifilis tersier bisa terjadi kira-kira 3 hingga 15 tahun setelah infeksi awal, dan bisa dibagi kedalam tiga bentuk berbeda; sifilis gummatous (15%), akhir neurosifilis (6.5%),dan kardiovaskular sifilis (10%). Tanpa pengobatan, ketiga dari orang yang terinfeksi berkembang ke penyakit tersier. Orang dengan sifilis tersier adalah bukan penular.

Sifilis gummatous atau sifilis akhir benign biasanya terjadi 1 hingga 46 tahun setelah infeksi awal, dengan rata-rata 15 tahun. Fase ini ditandai oleh pembentukan gumma kronik, yang lembut,mirip peradangan bola tumor yang bisa bermacam-macam dan sangat signifikan bentuknya gumma umumnya mempengaruhi kulit, tulang, dan liver, tetapi bisa terjadi dimanapun.

Neurosifilis merujuk pada infeksi yang melibatkan sistem saraf pusat yang bisa terjadi dini, menjadi tak bergajala atau dalam bentuk dari meningitis sifilistik yang berhubungan dengan keseimbangan yang lemah dan nyeri kilat pada ekstrimitas lebih rendah. Akhir neurosifilis umumnya terjadi 4 hingga 25 tahun setelah infeksi awal. Siflis meningovaskular umumnya muncul dengan apati dan sawan, serta telah umum dengan demensia dan dorsalis. Juga di sana mungkin terdapat pupil Argyll Robertson, tempat pupil kecil bilateral menyempit ketika orang fokus pada objek dekat, tapi tidak menyempit ketika terkena cahaya terang.

Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 tahun setelah infeksi awal. Komplikasi yang paling umum adalah syphilitic aortitis, yang dapat mengakibatkan pembentukan aneurisme.

Fase Kongenital

Sifilis kogenital bawaan sejak lahir dapat terjadi selama kehamilan atau selama kelahiran. Dua dari tiga bayi sifilis lahir tanpa gejala. Gejala umum yang kemudian berkembang dari kehidupan beberapa tahun pertama meliputi: hepatosplenomegali (70%), ruam (70%), demam (40%), neurosyphilis (20%), dan pneumonitis (20%). Jika terobati sifilis kongenital tahap akhir dapat terjadi di 40% meliputi: hidung; pelana kelainan bentuk, tanda Higoumenakis, saber shin, atau persendian Clutton di antara lainnya.




Faktor-faktor penyebab penyakit sifilis

Treponema pallidum

Treponema pallidum subspesies pallidum adalah bentuk spiral, Gram-negative bakteri sangat lincah. Tiga penyakit lain manusia disebabkan olehTreponema pallidum, meliputi patek, (subspesies pertenue), pinta, (sub spesies carateum). Tidak seperti sub-tipe pallidum'’, spesies tersebut tidak menyebabkan penyakit neurologis. Manusia adalah satu-satunya sub-spesies “palidum” yang dikenal reservoir alami.

Treponema pallidum sub spesies pallidum adalah berbentuk spiral, gram-negatif, bakteri yang bergerak lincah. Tiga penyakit terkait lain manusia disebabkan oleh Treponema pallidum, di antaranya yaws (subspesies pertenue), pinta (subspesies carateum) dan bejel (subspesiesendemicum). Tidak seperti subtipe pallidum, penyakit-penyakit tersebut tidak menyebabkan penyakit neurologis. Manusia dikenal sebagai satu-satunya penampung alami untuk subspesies pallidum. Subspesies “pallidum” tidak mampu bertahan tanpa inang selama lebih dari beberapa hari. Itu dikarenakan genomnya yang kecil (1.14 MDa) mengalami kegagalan untuk menyandikan jalur-jalur metabolisme yang diperlukan untuk membuat sebagian besar makronutriennya.Pembuatan mikronutriennya dua kali lebih lambat waktunya jauh lebih lama berjam-jam dari 30.

Cara Penularan Penyakit Sifilis

Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan dari ibu ke janinnya; spiroseta mampu menembus membran mokusa utuh atau ganguan kulit. Oleh karena itu dapat ditularkan melalui mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vaginal, dan anal. Sekitar 30 sampai 60% dari mereka yang terkena sifilis primer atau sekunder akan terkena penyakit tersebut. Contoh penularannya, seseorang yang disuntik dengan hanya 57 organisme mempunyai peluang 50% terinfeksi. Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat produk darah. Namun, produk darah telah diuji di banyak negara dan risiko penularan tersebut menjadi rendah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktifitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.

Pada kondisi yang jarang terjadi, sifilis dapat menyebar melalui transfusi darah yang terinfeksi, melalui hubungan langsung kontak dekat dengan lesi aktif (seperti selama berciuman), atau melalui ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kehamilan atau persalinan (kongenital sifilis).

Cara Pencegahan Penyakit Sifilis

Tidak ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Berpantang dari kontak fisik intim dengan orang yang terinfeksi secara efektif mengurangi penularan sifilis, seperti penggunaan yang tepat dari kondom lateks. Namun, penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi dan menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual.

Sifilis bawaan pada bayi dapat dicegah dengan penapisan ibu selama awal kehamilan dan mengobati mereka yang terinfeksi. United States Preventive Services Task Force (USPSTF) sangat merekomendasikan penapisan universal pada semua wanita hamil, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan agar semua wanita dites pada kunjungan pertama antenatal dan sekali lagi pada trimester ketiga. Jika mereka positif, mereka menganjurkan agar pasangan mereka juga dirawat. Meskipun demikian, sifilis bawaan masih banyak terjadi di negara berkembang, karena banyak wanita yang sama sekali belum menerima perawatan antenatal, dan bahkan perawatan lain sebelum melahirkan yang diterima tidak termasuk penapisan, dan ini terkadang masih terjadi di negara maju, karena mereka yang kemungkinan besar tertular sifilis (melalui penggunaan obat-obatan terlarang, dll.) adalah yang paling sedikit menerima perawatan selama kehamilan. Beberapa langkah untuk meningkatkan akses ke tes tampaknya efektif untuk mengurangi tingkat sifilis bawaan di negara berpendapatan rendah sampai menengah.

Sifilis adalah penyakit yang harus dilaporkan di beberapa negara, termasuk di Kanada Uni Eropa , dan Amerika Serikat. Ini berarti penyedia layanan kesehatan diwajibkan untuk memberitahukan kepada otoritas Kesehatan Masyarakat, yang idealnya nanti akan memberikan pemberitahuan pasangan kepada pasangan pasien.  Dokter juga dapat mendorong pasien untuk mengirim pasangan pasien untuk mencari perawatan kesehatan. CDC merekomendasikan laki-laki yang aktif secara seksual yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki dites sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.

Cara Perawatan Penyakit Sifilis

Infeksi dini

Pilihan perawatan pertama bagi sifilis rumit tetap satu dosis intramuskular penisilin G atau satu dosis oral azitromisin. Doksisiklin dan tetrasiklin adalah pilihan lainnya; namun, karena terdapat risiko kelainan pada janin dosisiklin dan tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk wanita hamil. Resistensi terhadap antibiotik telah berkembang pada sejumlah agen, termasuk makrolid,klindamisin, dan rifampin. Ceftriakson, generasi ketiga sefalosporin antibiotik, mungkin saja seefektif perawatan berbasis penisilin.

Infeksi akhir

Bagi neurosifilis, akibat penetrasi yang lemah dari penisilin G ke dalam sistem saraf pusat, mereka yang terkena dampak direkomendasikan untuk diberikan penisilin intravena dosis tinggi minimal untuk 10 hari. Jika orang mengalami alergi, ceftriakson bisa digunakan atau desensitisasi penisilin dapat dicoba. Kemunculan akhir lain dapat diobati dengan penisilin G intramuskular sekali seminggu selama tiga minggu. Jika alergi, seperti pada kasus awal penyakit, doksisiklin atau tetrasiklin dapat digunakan, sekalipun untuk jangka waktu lebih lama. Perawatan pada fase ini membatasi perkembangan lebih lanjut, tetapi hanya mempunyai efek relatif kecil pada kerusakan yang sudah terjadi.

Reaksi Jarisch-Herxheimer

Satu efek samping yang dapat terjadi akibat pengobatan ini adalah reaksi Jarisch-Herxheimer. Reaksi Jarisch- Herxheimer seringkali dimulai setelah satu jam dan bertahan selama 24 jam, dengan gejala demam, nyeri otot, sakit kepala, dan takikardia.Takikardia disebabkan oleh sitokin yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap lipoprotein yang dikeluarkan dari bakteri sifilis yang pecah.

Orang yang rentan terkena sifilis:

1. Terlibat dalam aktivitas seksual berisiko tinggi, termasuk hubungan seks tanpa kondom, hubungan seks dengan banyak pasangan, berhubungan seks dengan pasangan baru, atau berhubungan seks di bawah pengaruh obat atau alkohol
2. Seorang pria yang berhubungan seks dengan pria (homoseksual)
3. Orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV)

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis
http://mitrasehatkeluarga.blogspot.com/2013/05/tanda-tanda-penyakit-kelamin-sipilis.html
Read More --►

Jumat, 10 Januari 2014

Pengertian dan Penyebab Penyakit Kuning

Pengertian dan Penyebab Penyakit Kuning
Penyakit Kuning (icterus atau jaundice) adalah penyakit yang menyebabkan menguningnya kulit, sclera (bagian putih pada mata) dan juga kelenjar ludah yang disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin pada tubuh manusia (atau tubuh hewan yang mempunyai sel darah merah). Biasanya konsentrasi bilirubin pada darah harus melebihi 2–3 mg/dL untuk menimbulkan warna kuning yang bisa terlihat oleh kasat mata. Jaundice berasal dari Bahasa Perancis yaitu jaune, yang berarti kuning. Cairan empedu masuk ke dalam darah, sehingga tubuh tampak kekuningan.

Hepatitits dikenal dengan penyakit Liver atau penyakit kuning. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua penyakit kuning disebabkan oleh peradangan hati dan tidak semua peradangan hati menyebabkan penyakit kuning. Penyakit kuning sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, yaitu pada abad V sebelum masehi di Babilonia. Seorang tabib kuno, Hippocrates, menemukan bahwa penyakit kuning adalah penyakit yang menular sehingga dinamakan iterus infectiosa. Pada saat itu, penyakit kuning mewabah di kalangan penduduk sipil dan serdadu. 

PENYEBAB UMUM TERJADINYA PENYAKIT KUNING

Virus merupakan penyebab hepatitis A, B, C, D, E, F, dan G. Disamping itu, penyakit kuning juga bisa disebabkan oleh bakteri, parasit, obat - obatan, bahan kimia alami atau sintetis yang merusak hati, alkohol, gizi yang buruk, serta penyakit autoimmun. Virus Hepatitis B lebih sering menjadikan penyakit kuning berlanjut menjadi menahun. Yang menahun ini dapat jinak, dapat pula ganas - atau berubah menjadi cirrhosis atau malah kanker hati. Lebih dari 80% kanker hati sekunder bermula dari virus hepatitis B.

CARA PENULARAN PENYAKIT KUNING

Penularannya menyebar luas melalui hubungan seksual, jarum suntik, jarum infus, berbagai macam peralatan bedah, peralatan yang sering digunakan oleh dokter gigi, peralatan menicure pedicure yang dipakai secara bergantian di salon, bisa juga melalui jarum akupuntur, jarum tindik, alat untuk tatto, serta jarum yang biasa dipake oleh para pengguna narkoba. Oleh karena itu, kita perlu berhati - hati dan mewaspadai segala kemungkinan karena sampai saat ini penyakit hepatitis B dan C belum dapat disembuhkan. Hingga saat ini, dari semua jenis penyakit hepatitis, baru hepatitis B yang bisa dikebalkan dengan vaksinasi.



JENIS-JENIS PENYAKIT KUNING DAN CARA PENULARANNYA: 

1. HEPATITIS A (HAV)
Hepatitis A ditularkan melalui jalur oral - fekal. Penyakit hepatitis jenis A ini bisa disembuhkan secara sempurna dan tidak berkembang menjadi penyakit kronis 

2.  HEPATITIS B (HBV)
Penyakit hepatitis B ini ditularkan melalui darah, hubungan seksual, dan perinatal. Sekitar 5% hepatitis B akut berkembang menjadi kronis dan berkembang menjadi sirosis atau karsinoma hepatoseluler 

3. HEPATITIS C (HCV)
Sebanyak 50% kasus infeksi HCV akut sebagai akibat dari transfusi akan berkembang emnjadi kronis. antara 20 - 50% dari mereka menderita sirosis dan akhirnya sebagian berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler

4. HEPATITIS D (HDV)
Virus hepatitis D merupakan infeksi yang terjadi simultan dengan HBV. Sebagian dari hepatitis D dapat berkembang menjadi hepatitis kronis

5. HEPATITIS E (HEV)
Virus hepatitis E ini secara epidemiologik serupa dengan hepatitis A. Hepatitis E ini tidak berkembang menjadi hepatitis kronis 

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_kuning
http://carapedia.com/tentang_penyakit_kuning_info2277.html
Read More --►

Rabu, 02 Oktober 2013

Penyebab, Gejala dan Pencegahan Penyakit Kusta (Lepra)

Kusta lepra wikipedia
Penyakit kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus Hansen, adalah sebuah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Indonesia dikenal sebagai satu dari tiga negara yang paling banyak memiliki penderita kusta. Dua negara lainnya adalah India dan Brazil. Umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah.

Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk. Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. Pada 1995, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta.

Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India. Pada 1995, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta.  Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis, beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti India dan Vietnam.

Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar.[5] Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakittzaraath.

Penemuan umum penyakit kusta 
Penyakit Hansen atau Penyakit Morbus Hansen yang dahulu dikenal sebagai penyakit kusta atau lepra adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang sebelumnya, diketahui hanya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, hingga ditemukan bakteri Mycobacterium lepromatosis oleh Universitas Texas pada tahun 2008, yang menyebabkan endemik sejenis kusta di Meksiko dan Karibia, yang dikenal lebih khusus dengan sebutandiffuse lepromatous leprosy. Sedangkan bakteri Mycobacterium leprae ditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1873 sebagai patogen yang menyebabkan penyakit yang telah lama dikenal sebagai lepra. Saat ini penyakit lepra lebih disebut sebagai penyakit Hansen, bukan hanya untuk menghargai jerih payah penemunya, melainkan juga karena kata leprosy dan lepermempunyai konotasi yang begitu negatif, sehingga penamaan yang netral lebih diterapkan untuk mengurangi stigma sosial yang tak seharusnya diderita oleh pasien kusta.

Penyebab :
Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”.




Mekanisme penularan yang tepat belum diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. Dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu.

Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasinya. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu, berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda.Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non-endemik. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.

Ciri-ciri umum :
Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan membran mukosa. Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi 'kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler (borderline leprosy).

Kusta multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.

Kusta tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasi makula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik).

Kusta lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.

Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama oleh Paul Brand, disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada penderita AIDS.

Tanda-tanda :
Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. Secara umum, tanda-tanda itu adalah :
  • Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia
  • Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
  • Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
  • Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit
  • Alis rambut rontok
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :
Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil, Anoreksia, Nausea, kadang-kadang disertai vomitus, Cephalgia, Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis, Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali, Neuritis.

Pengobatan :
Pengobatan yang efektif terhadap penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga, bakteri penyebab lepra secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Hal ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu ditangani kembali.

Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, disetujui resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta.

Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

Obat terapi multiobat kusta.Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010. Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. Jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah.

Referensi :
http://www.indosiar.com/ragam/apa-dan-bagaimana-penyakit-kusta_79313.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_Hansen
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving