Mudjoko

Laki-laki, XX tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>tritunggaljayakudus.blogspot.com
=>tritunggaljaya-kudus.blogspot.com
=>tritunggal-jayakudus.blogspot.com
=>mudjoko.kds@gmail.com
::
Start
Mudjoko™ Kangmas Djoko
Shutdown

Navbar bawah

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label virus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label virus. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Pengertian Penyakit HIV-AIDS, Gejala, Penyebab dan Pencegahan

Pengertian Penyakit HIV-AIDS, Gejala, Penyebab dan Pencegahan
aids | photo:aidwest.ie
Pengertian Penyakit HIV-AIDS, Gejala, Penyebab, Penanganan dan Pencegahan. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang menyerang dan memperlemah sistem kekebalan tubuh manusia. Sehingga penderita akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. HIV belum ditemukan obat atau vaksin untuk menanganinya. Hanya dapat dilakukan penanganan untuk memperlambat perkembangan virus ini.

Sejarah

AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.
Jenis

Dua jenis spesies HIV yang menginfeksi manusia adalah :

1. HIV-1

HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia.

2. HIV-2

HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun

Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Namun, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.

Cara penularan

Cara penularan virus HIV dapat melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Virus ini tidak dapat ditularkan melalui kegiatan sehari-hari seperti pemakaian handuk, alat makan bersama dll.

1. Penularan seksual

Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. 

2. Kontaminasi patogen melalui darah

Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah.

3. Penularan masa perinatal

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan

Gejala dan komplikasi

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

Komplikasi yang sering terjadi pada penderita HIV

Penyakit paru-paru utama

Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.

Penyakit saluran pencernaan utama

Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.

Penyakit syaraf dan kejiwaan utama

Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.

Kanker dan tumor ganas (malignan)

Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).

Infeksi oportunistik lainnya

Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksiMycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo.

Penyebab

Penyebab utama dari HIV-AIDS adalah virus HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Pencegahan

Untuk mencegah penularan virus HIV sebaiknya untuk mengetahui dan menghindari tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh. Tiga jalur tersebut adalah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.
Untuk pencegahan infeksi dari ibu ke anak, penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus, bedah caesar, dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak. Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima, dapat dikerjakan dengan mudah, terjangkau, berkelanjutan, dan aman, ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka.

Penanganan

Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual, dan lelah.

Terapi antivirus

Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART). Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996, yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.

Penanganan eksperimental dan saran

Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian. Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin.

Pengobatan alternatif

Telah berbagai pengobatan alternatif digunakan untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit salah satunya adalah akupuntur. Akupunktur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala, misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram, kesemutan atau nyeri namun tidak menyembuhkan infeksi HIV. Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius.

Itulah penjelasan singkat mengenai pengertian penyakit HIV-AIDS beserta, gejala, penularan, pencegahan dan penangannya. Untuk lebih jelasnya anda dapat mengunjungi wikipedia. semoga bermanfaat.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS diakses tanggal 1 desember 2014
Read More --►

5 Fakta Penyakit AIDS yang Perlu Diketahui

5 Fakta Penyakit AIDS Diketahui
AIDS | photo:le-blog-sam-la-touch.over-blog
5 fakta penyakit HIV AIDS yang perlu anda ketahui. HIV adalah jenis virus yang mengincar sel-sel sistem kekebalan tubuh yang dapat merusak system kekebalan tubuh penderita. Hal ini membuat penderita semakin lemah dan rentan terhadap infeksi hingga akhirnya infeksi HIV berkembang menjadi immunodeficiency syndrome (AIDS).

Telah diketahui bahwa penyakit HIV AIDS belum ditemukan obatnya, sehingga perlu untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini. Seperti yang dilansir oleh Detik Health berikut fakta-fakta dari HIV :

1. HIV menyerang dalam waktu yang lama

Banyak penderita yang tidak menyadari ketika mereka serang virus HIV karena butuh waktu lama untuk melihat gejala-gejala yang muncul. Gejala demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokkan dapat muncul pada minggu-minggu awal dan rawan diduga sebagai penyakit lain seperti influenza. 

Virus HIV secara perlahan merusak system kekebalan tubuh dan perlu waktu 2 sampai 15 tahun sampai imunitas tubuh penderita benar-benar rusak dan infeksi berkembang menjadi AIDS. Setelah itu tahap tingkat lanjut dari infeksi HIV adalah membuka kemungkinan terhadap lebih dari 20 infeksi lainnya dan memperbesar munculnya kanker.

Penyakit lain yang menyerang penderita HIV harus diberikan penangan, karena tanpa imunitas tubuh, tiap penyakit yang menyerang sebagian besar dapat berakibat fatal.

Baca juga : Pengertian penyakit HIV-AIDS mulai dari gejala hingga penanganan

2. Menular lewat kontak intim

Virus HIV  menular dengan cara pertukaran berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi seperti darah, air susu ibu, air mani, dan cairan vagina. Namun HIV tidak dapat tertular melalui hubungan sehari-hari seperti berciuman, berpelukan, berbagi barang pribadi, berbagi makanan, dan berbagi minuman.

Untuk mencegahnya sebaiknya menggunakan pengaman saat bercinta dan penggunaan jarum suntik yang steril.

3. Sub-Sahara Afrika penderita terbanyak

Sub-Sahara Afrika merupakan daerah yang paling banyak penderita HIV dengan jumlah pengidap mencapai sekitar 24,7 jiwa. Daerah sub-Sahara Afrika juga dilaporkan menyumbang sampai 70 persen angka kasus HIV baru di seluruh dunia pada tahun 2013.

4. Penyakit dengan korban terbanyak

HIV masih diperingkat pertama sebagai penyakit yang paling banyak memakan korban, menurut WHO. Jumlah korban penyakit ini lebih banyak jika dibandingkan dengan virus lain seperti Ebola yang baru-baru ini menggemparkan dunia.

5. Sunat dapat cegah HIV

Penelitian yang dilakukan oleh WHO bahwa sunat dapat menurunkan risiko infeksi HIV sampai 60 persen. Hal ini karena kulit luar penis (foreskin) memiliki banyak sel yang menjadi target HIV, sehingga membuangya dapat mencegah penularan.

Itulah 5 Fakta Penyakit HIV AIDS yang perlu anda ketahui. Semoga bermanfaat.
Read More --►

Rabu, 27 Agustus 2014

Bukti Virus MERS Ditularkan Unta Ke Manusia

Bukti Virus MERS Ditularkan Unta Ke Manusia
Bukti bahwa unta menularkan virus MERS ke manusia. Para peneliti berhasil membuktikan bahwa virus MERS ditularkan oleh unta ke manusia. Awalnya para peneliti tersebut hanya berpendapat bahwa unta penyebab infeksi pernapasan akut ini, namun akhirnya mereka dapat membuktikan pendapatnya tersebut.

Bukti ini mereka peroleh setelah melakukan penelitian dengan mengotopsi jenazah seorang pria asal Arab Saudi yang meninggal akibat MERS. Dan ternyata pria yang dirawat di King Abdulaziz University Hospital, Jeddah ini ternyata mempunyai sembilan ekor unta peliharaan yang sempat jatuh sakit beberapa saat sebelum majikannya tersebut terinfeksi virus MERS. Dan dari catatan medis diketahui bahwa pria tersebut sempat memberikan obat tetes hidung pada unta peliharaannya itu untuk mencoba mengobatinya.


Seperti dilansir oleh BBC setelah si pasien meninggal, barulah peneliti mencoba menganalisis sampel virus MERS yang diambil dari tubuh ke-9 unta tersebut dan kemudian juga mengambil sampel dari pemiliknya. Hasil sampel tersebutlah yang membuat peneliti melaporkan bahwa ada rangkaian genome dari kedua sampel dinyatakan identik atau sama.

Sehingga dipastikan bahwa virus MERS yang menyebabkan infeksi pernapasan akut ini dapat menular lewat kontak langsung antara manusia dengan unta yang terinfeksi. Namun belum diketahui penularannya melalui pernapasan atau tidak. Karena sebelumnya si pasien sempat memberikan obat berupa tetes hidung ke unta. Dugaan lain mengindikasikan bahwa  ada juga dugaan virus di susu unta.
Read More --►

Kamis, 21 Agustus 2014

Pengertian Flu Burung, Cara Penularan, Gejala dan Pencegahan

Pengertian Flu Burung, Cara Penularan, Gejala dan Pencegahan
Pengertian Flu burung, cara penularan, gejala, perawatan dan pencegahannya. Penyakit flu burung yang dalam bahasa inggrisnya disebut avian influenza sempat menjadi salah satu penyakit akibat virus yang sangat mematikan. Flu burung atau H5N1 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia namun akhirnya menular ke manusia.


Pada tanggal 8 Februari 2006, OIE mengumumkan bahwa Nigeria sebagai negara pertama yang memiliki kasus positif flu burung di benua itu. Dua pekan kemudian, virus H5N1 ditemukan di sebuah desa kecil di Niger, sekitar 72 km dari perbatasannya dengan Nigeria. Virus ini juga menyebar ke Mesir dan Kamerun dan akhirnya menyebar ke beberapa negara-negara lain.

Penularan

Cara penularan virus flu burung dapat melalui kontak langsung dengan burung liar dan unggas ternak yang terjangkit H5N1. Pada kasus yang terjadi di Asia Tenggara kebanyakan penularannya terjadi melalui jalur transportasi atau peternakan unggas dan burung-burung liar yang melakukan migrasi.

Selain itu penularan juga dapat melalui makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang dimasak dengan matang akan terhindar dari virus ini. Ini karena virus H5N1 akan mati dalam suhu yang tinggi. Namun pada suhu rendah virus ini dapat bertahan. Makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus H5N1.

Gejala

Gejala-gajala umum ketika terinfeksi adalah demam tinggi, keluhan pernapasan dan sakit perut.  Gejala lengkapnya dapat berupa :
  1. Demam sekitar 39 derajat Celsius
  2. Batuk
  3. Lemas
  4. Sakit tenggorokan
  5. Sakit kepala
  6. Tidak nafsu makan
  7. Muntah
  8. Nyeri perut
  9. Nyeri sendi
  10. Diare
  11. Infeksi selaput mata (conjunctivitis)

Gejala tingkat lanjut dapat menyebabkan severe respiratory distress atau sesak napas hebat. Hal ini karena infeksi flu burung menyebar ke paru-paru dan menyebabkan radang paru-paru.

Gejala di Hongkong tahun 1997 berupa : demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, muntah, dan keluhan pusing.

Sedangkan di  Vietnam di tahun 2004 mempunyai gejala yang berbeda. Pasien yang terjangkit virus H5N1 tidak mengeluh sakit tenggorokan atau pilek namun mereka malah menderita diare dengan tinja yang cair.

Perawatan

Obat-obatan yang diberikan pada pasien berupa obat penurun panas dan antivirus. Obat antivirus yang diberikan pada pasien adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase (neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir. Namun yang perlu diperhatikan adalah setiap antivirus tersebut mempunyai efek samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu dan dengan anjuran dokter.

Selain itu obat yang diberikan biasa sesuai dengan gejalanya bila batuk, pasien dapat diberi obat batuk; kalau sesak dapat diberi obat jenid bronkodilator untuk melebarkan saluran napas yang menyempit. Namun jika keadaan pasien terus memburuk, tidak mungkin perlu dipasang alat ventilator untuk membantu pernapasannya.

Pencegahan

Pasien yang tertular virus tidak selamanya akan menimbulkan sakit. Namun, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan dan dicegah penyebarannya

Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga
Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi risiko penularan.

Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70 derajat C atau 80 derajat C selama sedikitnya satu menit
Gunakan pola hidup sehat untuk membantu ketahanan tubuh, seperti makan makanan bergizi, istirahat yang cukup dan olah raga teratur.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Flu_burung diakses tanggal 22 agustus 2014
http://indonesiaindonesia.com/f/13820-flu-burung-gejala-penularan-and-pencegahannya/ diakses tanggal 22 agustus 2014
Read More --►

Senin, 18 Agustus 2014

5 Jenis Virus Yang Berbahaya Selain Ebola

5 Jenis Virus Yang Berbahaya Selain Ebola
5 jenis virus yang berbahaya selain Ebola yang perlu anda ketahui. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan keganasan virus Ebola. Sehingga virus tersebut merupakan virus yang paling ditakuti. Virus ini sudah banyak memakan banyak korban kurang lebih seribu orang yang berada di Afrika Barat tempat munculnya virus ini. Namun kita jangan hanya terpacu pada virus Ebola saja, masih banyak virus lain yang juga harus diwaspadai.


Seperti yang dilansir merdeka.com inilah beberapa virus yang juga berbahaya selain virus Ebola.

1. Virus rabies
Ini merupakan virus yang banyak memakan korban di Amerika Serikat, Afrika dan Asia. Di Amerika sekitar 2.000 korban meninggal akibat virus ini setiap tahun. Sedangkan di Asia dan Afrika sekitar 55.000 orang. Penularannya melalui air liur hewan yang terinfeksi seperti anjing dan kelelawar. Beberapa kasus banyak yang terlambat diberikan vaksin pencegah rabies karena mereka tidak sadar terjangkit virus tersebut, apalagi bagi mereka yang terkena gigitan kelelawar.

2. HIV AIDS
Sampai sekarang belum ditemukan vaksin yang ampuh untuk menyembuhkan penderita HIV AIDS. Sehingga ini adalah salah satu virus yang juga sangat ditakuti. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkannya dari waktu ke waktu. Sehingga penderita akan kesulitan dalam melawan infeksi dari penyakit lain.

3. Influenza
Anda mungkin belum mengetahui bahwa virus yang terdengar sangat remeh ini ternyata telah membunuh banyak orang setiap tahunnya. Apa lagi ditambah dengan penularan virus ini yang sangat cepat. Badan penanggulangan kesehatan di Amerika Serikat (CDC), mengatakan bahwa setiap musimnya virus flu bisa membunuh sekitar 3.000 hingga 49.000 orang. Hal ini terjadi ketika terutama ada beberapa jenis pandemi virus tertentu seperti flu babi dan flu burung.

4. Virus akibat gigitan nyamuk
Demam berdarah, malaria dan chikungnya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus akibat gigitan nyamuk. Dan dari ketiga penyakit tersebut, demam berdaralah merupakan penyakit yang mematikan. Menurut WHO, setidaknya 40% dari populasi dunia berada pada risiko yang tinggi untuk terkena penyakit akibat virus nyamuk. Jadi waspadalah terhadap gigitan nyamuk.

5. Rotavirus
Mungkin anda belum mengetahui apa itu rotavirus. Rotavirus mampu menyebabkan virus gastroenteritis.  Gastroenteritis adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Pada umumnya penyakit ini akan menyerang lambung dan usus sehingga menyebabkan diare, muntah, dan kejang pada perut. Sebagian besar mereka yang terkena virus ini adalah anak-anak dengan usia di bawah 5 tahun dan sekitar 82% kematian karena virus ini terjadi di negara berkembang.

Tidak semua orang berisiko terjangkit virus ini, namun anak-anak yang menjadi objek utama. Tetapi jangan khawatir karena di tahun 2006 telah dikembangkan vaksin baru untuk mengobati penyakit ini dan bisa direkomendasikan kepada anak usia 2 bulan.

Itulah jenis-jenis virus yang juga berbahaya selain Ebola. Kita harus selalu waspada, karena kita tidak tahu kapan virus tersebut akan menyerang kita. Selain itu kita juga harus menerapkan polah hidup sehat.


Semoga bermanfaat.
Read More --►

Rabu, 13 Agustus 2014

Kecil Kemungkinan Penularan Ebola Melalui Hewan

Kecil Kemungkinan Penularan Ebola Melalui Hewan
Kecil Kemungkinan Penularan Ebola Melalui Hewan. Virus Ebola merupakan penyakit yang sangat ditakuti penyebarannya. Kekhawatiran ini terjadi diseluruh dunia khususnya Negara afrika barat yang merupakan awal mula kemunculan virus ini. Apakah virus ebola dapat ditularkan dari hewan ke manusia? Kasus ini masih sementara diteliti.


Sejauh ini menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, dr Slamet, MHP mengatakan bahwa memang ada beberapa kasus virus Ebola ditemukan diluar manusia. Namun menurutnya penularan virus Ebola masih secara langsung dari manusia ke manusia seperti yang dilansir okezone.



Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa tidak ada transportasi hewan dari daerah yang terjangkit Ebola ke Indonesia. Sehingga kemungkinan penyebaran virus Ebola ke Indonesia sangat sulit terjadi. 
Read More --►

Jumat, 08 Agustus 2014

Pengertian Penyakit Ebola, Penyebab, Gejala dan Perawatan

virus ebola
virus Ebola photo : wikipedia
Pengertian Penyakit Ebola, Penyebab, Gejala dan Perawatan. Ebola adalah penyakit yang disebabkan oleh sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae. Tingkat kematian berkisar antara 80% sampai 100%. Asal kata penyakit ini adalah dari sungai Ebola di Kongo. Awalnya Istilah penyakit tersebut sebelumnya adalah demam berdarah ebola (Ebola haemorrhagic fever), kemudian berubah menjadi penyakit virus ebola (Ebola Virus Disease/EVD), sesuai dengan ICD-10.

Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit penderita. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan.

Penyakit Ebola merupakan penyakit yang paling mematikan diseluruh dunia. Karena bila terinfeksi maka kesempatan untuk hidup 0%. Sampai sekarang masih dicari vaksinnya. Penderita biasanya bisa langsung meninggal dalam waktu 6 hari sampai 20 hari. Karena keganasan penyakit ini, Ebola adalah penyakit yang paling dihindari untuk terjangkit diseluruh dunia.

Sejarah Munculnya Ebola

Virus Ebola pertama kali muncul pada tahun 1976 di Zaire dan Sudan. Kasus Ebola di Zaire memiliki salah satu tingkat fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, sekitar 90%, dengan tingkat fatalitas kasus 88% pada tahun 1976, 59% pada tahun 1994, 81% pada tahun 1995, 73% pada tahun 1996, 80% pada 2001-2002, dan 90% pada tahun 2003. Di Sudan memiliki tingkat fatalitas kasus sekitar 50%.

Baca Juga : Kecil Kemungkinan Penularan Virus Ebola Melalui Hewan

Spesifikasi

Ada 5 spesies virus ebola, yaitu :
  1. Bundibugyo
  2. Pantai Gading
  3. Reston
  4. Sudan
  5. Zare.

Dari kelima spesies tersebut, spesies Bundibugyo, Sudan, dan Zaire adalah spesies yang dikaitkan dalam wabah besar virus ebola di Afrika yang menyebabkan kematian pada 25-90% kasus klinis.

Gejala

Masa inkubasi-nya dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari tetapi pada umumnya berkisar antara  5-10 hari saja. Awal gejala termasuk demam tinggi (setidaknya 38.8 ° C, 101.8 ° F), sakit kepala parah, sakit otot, atau sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, terjadi pendarahan internal dan eksternal. Sebelum diketahui bahwa gejala ini merupakan gejala ebola, gejala awalnya sangat mirip dengan malaria, demam tipus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri.

Lebih lanjut gejala Ebola mungkin lebih serius, seperti diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, mata merah distension dan pendarahan arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura. Gejala lain, sekunder termasuk hipotensi (tekanan darah rendah), hypovolemia dan tachycardia. Interior pendarahan yang disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet.

Kadang-kadang terjadi internal dan eksternal pendarahan dari beberapa lubang, seperti hidung dan mulut, juga dapat terjadi pada luka-luka yang belum sembuh sepenuhnya. Ebola virus dapat mempengaruhi tingkat sel darah putih dan platelet, mengganggu pembekuan. Lebih dari 50% dari pasien akan mengembangkan beberapa derajat hemorrhaging.

Diagnosis

Metode diagnosis Ebola termasuk pengujian sampel air liur dan urin. Ebola didiagnosis dengan tes Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA). Metode diagnosis ini telah menghasilkan hasil yang berpotensi ambigu selama situasi non-wabah.

Perawatan

Tidak ada standar perawatan untuk Ebola demam hemorrhagic. Perawatan terutama mendukung dan termasuk meminimalkan prosedur invasif, menyeimbangkan elektrolit, dan, karena pasien sering mengalami dehidrasi, menggantikan hilangnya kaskade untuk membantu menghentikan pendarahan, mempertahankan tingkat oksigen dan darah.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Ebola diakses tanggal 9 agustus 2014
http://www.news-medical.net/health/What-is-Ebola-(Indonesian).aspx diakses tanggal 9 agustus 2014
http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2123887/kenali-ebola-virus-dari-afrika#.U-WAs_l_v5M diakses tanggal 9 agustus 2014
Read More --►

Selasa, 05 Agustus 2014

Pengertian Paru-paru Basah (Radang paru-paru), Gejala Penyebab dan Pencegahan

paru paru basah atau radang paru paru
Pengertian penyakit Paru-paru Basah atau Radang paru-paru, Gejala Penyebab dan Pencegahan. Sebutan paru-paru basah lebih dikenal di masyarakat. Namun sebenarnya penyakit ini dalam istilah medisnya adalah radang paru-paru atau pneumonia. Pneumonia adalah kondisi inflamasi pada paru utamanya memengaruhi kantung-kantung udara mikroskopik yang dikenal sebagai alveolus.  Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri dan lebih jarang mikroorganisme lainnya, obat-obatan tertentu, dan kondisi lain seperti penyakit autoimun.



Beberapa kasus paru paru basah terjadi oleh karena menghirup tetesan kecil yang mengandung organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Tetesan ini masuk ke udara ketika seseorang terinfeksi dengan kuman melalui batuk atau bersin. Dalam kasus lain, disebabkan ketika bakteri atau virus yang biasanya hadir di mulut, tenggorokan, atau hidung tanpa sengaja memasuki paru. Biasanya, respon refleks tubuh dan sistem kekebalan tubuh mereka akan mencegah organisme disedot dari organisme penyebab paru-paru basah
Setelah organisme memasuki paru paru, mereka biasanya menetap di kantung udara dan bagian-bagian dari paru-paru di mana mereka berkembang pesat jumlahnya. Pada daerah ini paru paru kemudian menjadi terisi dengan cairan dan nanah (sel-sel inflamasi tubuh) karena tubuh berusaha untuk melawan infeksi.

Pneumonia mengisi alveoli paru-paru dengan cairan, menghalangi oksigenasi. Alveolus di sisi kiri dalam kondisi normal, sedangkan yang di sisi kanan penuh terisi cairan akibat pneumonia.
Pneumonia sering berawal sebagai infeksi saluran pernapasan atas yang kemudian berpindah ke saluran pernapasan bawah.

Faktor risiko dan kondisi yang memengaruhi pneumonia mencakup: merokok, imunodefisiensi, alkoholisme, penyakit obstruktif paru kronis, penyakit ginjal kronis, dan penyakit hati. Penggunaan obat-obatan yang bersifat menekan asam seperti penghambat pompa proton atau penyekat H2- dikaitkan dengan peningkatan risiko pneumonia. Usia lanjut juga berpengaruh pada pneumonia.

Gejala

Gejala paru paru basah meliputi :

  1. Batuk, biasa disertai dengan dahak
  2. Nyeri dada
  3. Demam
  4. Kesulitan bernapas
  5. Telapak tangan dan kaki terasa dingin dan sering basah
  6. Dada terasa sakit saat batuk

Untuk mengetahui sesorang terkena radang paru-paru dapat menggunakan alat diagnostik mencakup rontgen dan pengambilan kultur dari sputum.

Beberapa vaksin untuk mencegah jenis pneumonia tertentu kini sudah tersedia. Pengobatan yang dilakukan bergantung pada penyebab dasarnya. Dugaan pneumonia bakterial diobati dengan antibiotik. Jika pneumonianya parah, penderita biasanya dirujuk ke rumah sakit.

Pasien pneumonia yang menular biasanya menderita batuk produktif, demam yang disertai menggigil bergetar, sulit bernapas, nyeri dada yang tajam atau menghunjam selama menarik napas dalam-dalam, dan peningkatan laju respirasi. Pada manula, adanya kebingungan menjadi tanda yang paling utama. Tanda-tanda dan gejala khusus pada anak-anak balita yaitu demam, batuk, dan napas yang cepat atau sulit.

Penyebab

Penyebab utama pneumonia adalah bakteri dan virus. Penyebab yang disebabkan oleh fungi dan parasit sangat jarang dijumpai.  Berikut penyebab radang paru-paru :

Bakteri
Bakteri adalah penyebab paling umum dari pneumonia dapatan masyarakat (CAP), dengan Streptococcus pneumoniae berhasil diisolasi dalam hampir 50% kasus yang ada. Bakteri lain yang umum diisolasi mencakup termasuk: Haemophilus influenzae dalam 20% kasus, Chlamydophila pneumoniae dalam 13% kasus, dan Mycoplasma pneumoniae dalam 3% kasus Staphylococcus aureus; Moraxella catarrhalis; Legionella pneumophila dan Basilus gram-negatif.

Virus
Sekitar sepertiga kasus pneumonia pada orang dewasa disebabkan oleh virus dan sekitar 15% kasusnya terjadi pada anak-anak.

Fungi
Pneumonia yang disebabkan oleh jamur jarang dijumpai, namun lebih sering muncul pada individu yang menderita sistem kekebalan lemah akibat AIDS, obat penekan kekebalan, atau masalah medis lainnya.

Parasit
Beragam parasit dapat memengaruhi paru-paru, termasuk: Toxoplasma gondii, Strongyloides stercoralis,Ascaris lumbricoides, dan Plasmodium malariae. Berbagai organisme ini biasanya memasuki tubuh melalui kontak langsung dengan kulit, pencernaan, atau melalui vektor serangga.

Idiopatik
Pneumonia interstisial idiopatik atau pneumonia yang tidak menular merupakan kelas penyakit paru difus.

Pencegahan

Berhenti merokok dan menurunkan polusi udara di dalam ruangan, seperti yang berasal dari memasak di dalam ruangan dengan menggunakan kayu atau kotoran sapi. Merokok tampaknya menjadi faktor risiko terbesar untuk pneumonia pneumokokal pada orang dewasa yang seharusnya sehat. Kebersihan tangan dan menutupi batuk dengan lengan tangan bisa juga menjadi sarana pencegahan yang efektif. Pemakaian masker operasi oleh mereka yang sakit juga bisa mencegah penyakit.

Mengobati penyakit dasarnya (seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan malnutrisi) dengan tepat bisa menurunkan risiko pneumonia. Pada anak-anak usia di bawah 6 bulan pemberian susu ibu ekslusif menurunkan baik risiko maupun keparahan penyakit. Di kalangan mereka yang menderita HIV/AIDS serta hitungan CD4 kurang dari 200 sel/uL, antibiotik trimetoprim/sulfametoksazol menurunkan risiko Pneumonia pneumosistis dan bisa juga berguna untuk pencegahan bagi mereka yang memiliki gangguan kekebalan tubuh tapi tidak mempunyai HIV.

Menguji wanita hamil untuk Streptokokus Grup B dan Klamidia trakomatis, dan memberikan pengobatan antibiotik, bila diperlukan, menurunkan risiko tingkat pneumonia pada bayi sarana pencegahan transmisi dari ibu ke anak bisa juga efisien. Di kalangan lansia yang ringkih, perawatan kesehatan mulut yang baik bisa menurunkan risiko pneumonia aspirasi.

Berolahraga juga merupakan salah satu pencegahan pneumonia. Keluarnya keringat akan mengurangi radang paru paru.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Radang_paru-paru diakses pada tanggal 5 agustus 2014
http://www.kesehatan123.com/1922/mengenal-penyakit-paru-paru-basah/ diakses pada tanggal 5 agustus 2014
http://paru-paru.com/gejala-paru-paru-basah/ diakses pada tanggal 5 agustus 2014
Read More --►

Minggu, 15 Juni 2014

Pengertian Hepatitis C, Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Perawatan

Pengertian Hepatitis C, Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Perawatan
Pengertian Hepatitis C, Gejala, Penularan, Pencegahan dan Perawatan. Sama dengan Hepattitis jenis lain, Hepatitis C juga menginfeksi organ hati. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Gejalanya hampir tidak terlihat, namun infeksi kronis dapat menyebabkan parut (eskar) pada hati, dan setelah menahun menyebabkan sirosis. Beberapa kasus, penderita yang mengalami sirosis juga mengalami penyakit kombinasi seperti gagal hati, kanker hati, atau pembuluh yang sangat membengkak di esofagus dan lambung, yang dapat mengakibatkan perdarahan hingga kematian. Para ilmuwan mulai meneliti HCV pada tahun 1970-an, dan memastikan keberadaan virus tersebut pada tahun 1989.


Gejala dan Tanda

Hanya 15% kasus Hepatitis C menunjukkan gejala akut. Gejalanya seringkali ringan dan tidak kentara, gejalanya seperti :
  1. Penurunan nafsu makan
  2. Sakit kepala
  3. Letih
  4. Nyeri otot atau nyeri sendi
  5. Menurunnya berat badan

Hanya sedikit kasus infeksi akut yang terkait dengan ikterus. Infeksi ini dapat sembuh sendiri tanpa diobati pada 10-50% penderita, dan lebih sering menyerang perempuan usia muda.

Infeksi kronis

Sekitar delapan puluh persen penderita yang terpajan virus hepatitis C akan mengalami infeksi kronis. Selama 10 tahun pertama infeksi hepatitis C menunjukkan gejala minim dan bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali, meskipun hepatitis C kronis dapat ditandai dengan kelelahan. Sekitar 10–30% orang yang terinfeksi selama lebih dari 30 tahun akan mengalami sirosis. Orang yang mulai terkena sirosis memiliki risiko dua puluh kali lebih besar terkena kanker hati, sebanyak 1-3% per tahun. Pada pecandu alkohol, risiko ini menjadi 100 kali lebih besar. Dalam penelitian Hepatitis C merupakan penyebab utama pada 27% kasus sirosis dan 25% kasus kanker hati.

Efek dari sirosis hati dapat menyebabkan tekanan darah yang tinggi pada vena yang mengalir ke hati, akumulasi cairan di perut, mudah memar atau berdarah, vena melebar, khususnya di lambung dan esofagus, sakit kuning (kulit menguning), dan kerusakan otak.

Penyebab

Penyebab hepatitis C adalah virus hepatitis C yang merupakan virus RNA yang berukuran kecil, bersampul, berantai tunggal, dengan sense positif. Virus ini merupakan anggota genushepacivirus dalam family Flaviviridae. Terdapat tujuh genotipe utama HCV. Di Amerika Serikat, genotipe 1 merupakan penyebab pada 70% kasus hepatitis, genotipe 2 pada 20%, dan genotipe lainnya masing-masing 1%. Genotipe 1 juga merupakan genotipe yang paling banyak ditemui di Amerika Selatan dan Eropa.

Penularan

Dibawah ini adalah penyebab menularnya hepatitis C :
  1. Penggunaan Narkoba Suntik
  2. Pajanan terkait layanan kesehatan Transfusi darah, produk darah, dan transplantasi organ tanpa penapisan HCV
  3. Hubungan Seksual
  4. Tindik dan Tatto di bagian tubuh
  5. Kontak dengan darah
  6. Penularan dari ibu ke anak

Diagnosis

Tes diagnosis untuk hepatitis C termasuk: antibodi HCV, ELISA, Western blot, dan RNA HCV kuantitatif. Polymerase chain reaction (PCR) dapat mendeteksi RNA HCV satu hingga dua minggu setelah infeksi, sedangkan antibodi baru terbentuk dan baru dapat ditemukan dalam waktu yang lebih lama.
Hepatitis C kronis merupakan infeksi dengan virus hepatitis C yang menetap selama lebih dari enam bulan berdasarkan keberadaan RNA-nya. Karena infeksi kronis umumnya baru menunjukkan gejala setelah berpuluh tahun, dokter biasanya baru menemukan kasus pada saat pemeriksaan fungsi hati atau saat melakukan penapisan rutin pada orang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan antara infeksi akut dan infeksi kronis.

Pemeriksaan darah

Pemeriksaan hepatitis C biasanya dimulai dengan pemeriksaan darah untuk mendeteksi apakah ada antibodi terhadap HCV dengan menggunakan uji imunoasai enzim (enzyme immunoassay). Jika hasil pemeriksaan ini positif, dilakukan pemeriksaan kedua untuk memastikan uji imunoasai dan untuk menentukan beratnya penyakit. Uji imunoblot rekombinan memastikan uji imunoasai tersebut, dan reaksi rantai polimerase RNA HCV menentukan beratnya. Jika tidak ada RNA dan hasil imunoblot positif, orang tersebut pernah mengalami infeksi namun sudah teratasi baik dengan pengobatan maupun secara spontan; jika imunoblot negatif, artinya uji imunoasai salah. Uji imunoasai baru akan memberikan hasil positif enam hingga delapan minggu setelah infeksi.

Pencegahan

Hingga tahun 2011, belum ada vaksin untuk hepatitis C. Vaksin sedang dikembangkan dan sebagian menunjukkan hasil yang menjanjikan. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan cara seperti program pertukaran jarum suntik dan pengobatan untuk penyalahgunaan zat terlarang, menurunkan risiko hepatitis C hingga 75% pada pengguna narkoba suntik. Penapisan pada pendonor darah penting dilakukan pada tingkat nasional, sesuai dengan universal precautions (pencegahan universal) di fasilitas layanan kesehatan. Di negara-negara yang tidak memiliki pasokan spuit steril yang cukup, penyedia layanan kesehatan sebaiknya memberikan obat oral dibandingkan dengan obat suntik.

Obat-obatan

Peginterferon dan ribavirin merupakan obat-obatan standar untuk HCV. Antara 50-80% pasien yang diobati sembuh. Pasien dengan sirosis atau kanker hati mungkin memerlukan transplantasi hati, namun biasanya virus muncul kembali setelah transplantasi. Tidak ada vaksin untuk hepatitis C.

Pengobatan saat ini menggunakan kombinasi interferon pegilasi dan obat antivirus ribavirin selama 24 atau 48 minggu, bergantung pada tipe HCV. Hasilnya lebih baik pada 50–60% pasien yang diobati. Kombinasi boceprevir atau telaprevir dengan ribavirin dan peginterferon alfa meningkatkan respons antivirus terhadap hepatitis C genotipe 1. Efek samping pengobatan sering terjadi setengah dari pasien yang diobati terserang gejala yang mirip flu, dan sepertiga dari mereka mengalami masalah emosional. Pengobatan yang dilakukan dalam enam bulan pertama akan lebih efektif daripada pengobatan yang dilakukan setelah hepatitis C menjadi kronis.

Pasien yang mengalami infeksi baru dan virus belum dapat dihilangkan setelah delapan hingga dua belas minggu, pasien tersebut sebaiknya menjalani pengobatan interferon pegilasi selama 24 minggu. Bagi pasien dengan thalasemia (kelainan darah), ribavirin sepertinya dapat digunakan, namun meningkatkan kebutuhan akan transfusi. Para ahli yang mendukung mengklaim terapi alternatif sebagai terapi yang bermanfaat pada hepatitis C termasuk milk thistle (silybum), ginseng, dan colloidal silver/perak koloid. Namun, belum ada terapi alternatif yang terbukti memberikan hasil yang lebih baik pada hepatitis C.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Hepatitis_C
Read More --►

Sabtu, 14 Juni 2014

Pengertian Hepatitis B, Penyebab, Penularan dan Perawatan

Pengertian Hepatitis B, Penyebab, Penularan dan Pencegahan
Pengertian Hepatitis B, Penyebab, Penularan dan Pencegahan. Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB). Virus ini merupakan suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Mula-mula dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika. Hepatitis B telah  menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia.


Penyebab

Ternyata Penyebab Hepatitis bukan dari virus saja. Keracunan akibat obat-obatan dan berbagai macam zat kimia seperti karbontetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis.

Diketahui bahwa fungsi hati adalah menetralkan racun yang beredar di dalam darah. Namun Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh ini dapat juga merusak fungsi hati, sehingga hati tidak dapat bekerja dengan normal.

Diagnosis

Virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious) dari HIV, dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata. Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus.

Hepatitis B persisten

Hepatitis B kronis ini ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi.

Hepatitis B kronis eksaserbasi

Keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN).
Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5). Pemeriksaan virologi, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus. Pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktivitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral.

Gejala umum penyakit Hepatitis B ringan

1. Selera makan hilang
2. Rasa tidak enak di perut
3. Mual sampai muntah
4. Demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi
5. Bengkak pada perut kanan atas

Setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.

Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama,

1. Jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh.
2. Jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif.
3. Jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.

Penularan

Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular.

1. Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
2. Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut (sariawan, gusi berdarah,dll), lendir (berciuman) atau luka yang mengeluarkan darah serta hubungan seksual dengan penderita.

Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV.

Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk menenularan penyakit ini.

Perawatan

Kerusakan sel hati yang disebabkan virus hepatitis B dapat tumbuh kembali sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.

Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon Alfa ( Uniferon).

Pengobatan Tradisional

Terdapat pengobatan tradisional yang dapat dilakukan untuk mencegah dan membantu pengobatan hepatitis B. Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati.

Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara lain :
1. Temulawak
2. Kunyit
3. Sambiloto
4. Meniran
5. Daun serut/mirten
6. Jamur kayu/lingzhi
7. Akar alang-alang
8. Rumput mutiara
9. Pegagan
10. Buah kacapiring
11. Buah mengkudu
12. Jombang

Pengobatan alternatif lain Hepatitis B seperti hijamah/bekam yang bisa menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Hepatitis_B
Read More --►

Minggu, 01 Juni 2014

Pengertian Penyakit Kanker, Jenis dan Penyebab

pengertian kanker jenis dan penyebabnya
Pengertian Penyakit Kanker, Jenis dan Penyebab. Kanker biasa disebut juga dengan istilah Puru ayal atau atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal) menyerang jaringan biologis di dekatnya. bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.


Tiga karakter ganas inilah yang membedakan kanker dari tumor jinak. Sebagian besar kanker membentuk tumor, tetapi beberapa tidak, seperti leukemia. Cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan studi, diagnosis, perawatan, dan pencegahan kanker disebut onkologi.

Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantung pada lokasi dan karakter keganasan, serta ada tidaknya metastasis. Diagnosis biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi. Setelah didiagnosis, kanker biasanya dirawat dengan operasi, kemoterapi, atau radiasi.

Bentuk kanker berhubungan dengan faktor lingkungan seperti halnya merokok yang menyebabkan banyak kanker daripada faktor lingkungan lain. Tumor juga dapat menyebabkan kanker. Tumor ganas dapat bersifat kanker, sedangkan tumor jinak tidak bersifat kanker. Kanker dapat menyebar melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke organ lain.

Klasifikasi Jenis Kanker

Dibawah ini adalah klasifikasi penyakit kanker berdasarkan kategori yang umum, yaitu :
  1. Karsinoma, merupakan kanker yang terjadi pada jaringan epitel, seperti kulit atau jaringan yang menyelubungi organ tubuh, misalnya organ pada sistem pencernaan atau kelenjar. Contoh meliputi kanker kulit, karsinoma serviks, karsinoma anal, kanker esofageal, karsinoma hepatoselular, kanker laringeal, hipernefroma, kanker lambung, kanker testiskular dan kanker tiroid.
  2. Sarkoma, merupakan kanker yang terjadi pada tulang seperti osteosarkoma, tulang rawan seperti kondrosarkoma, jaringan otot seperti rabdomiosarcoma, jaringan adiposa, pembuluh darah dan jaringan penghantar atau pendukung lainnya.
  3. Leukemia, merupakan kanker yang terjadi akibat tidak matangnya sel darah yang berkembang di dalam sumsum tulang dan memiliki kecenderungan untuk berakumulasi di dalam sirkulasi darah.
  4. Limfoma, merupakan kanker yang timbul dari nodus limfa dan jaringan dalam sistem kekebalan tubuh

Faktor risiko

Penyakit kanker 90-95% kasusnya disebabkan faktor lingkungan dan 5-10% karena faktor genetik. Faktor lingkungan yang biasanya mengarahkan kepada kematian akibat kanker adalah tembakau (25-30%), diet dan obesitas (30-35 %), infeksi (15-20%), radiasi, stres, kurangnya aktivitas fisik, polutan lingkungan. Dibawah ini adalah beberapa faktor risiko penyebab kanker :

Bahan Kimia
Bahan kimia penyebab paling umum terkena kanker adalah tembakau. Selain itu alkohol juga memicu terjadinya kanker.

Radiasi Ionisasi
Sumber-sumber radiasi ionisasi, seperti gas radon, sinar ultraviolet, frekuensi radio tak berion dan telp suleler bisa menyebabkan kanker.

Infeksi virus
Beberapa dari kanker bisa disebabkan infeksi virus dan berperan hingga 20% penyebab kanker pada manusia di seluruh dunia. Berikut virus penyebab kanker :
  1. Papillomavirus pada manusia (kanker serviks)
  2. Poliomavirus pada manusia (mesothelioma, tumor otak)
  3. Virus Epstein-Barr (penyakit limfoproliferatif sel-B dan kanker nasofaring)
  4. Virus herpes penyebab sarcoma Kaposi (Sarcoma Kaposi dan efusi limfoma primer)
  5. Virus-virus hepatitis B dan hepatitis C (kanker hati)
  6. Virus-1 leukemia sel T pada manusis (leukemia sel T)
  7. Helicobacter pylori (kanker lambung)

Ketidakseimbangan Metabolisme
Senyawa formaldehid yang disintesis di dalam tubuh, seringkali terbentuk dari lintasan metabolisme senyawa xenobiotik, dapat membentuk ikatan kovalen dengan DNA, atau mengikat pada serum albumin dan gugus valina dari hemoglobin, dan menginduksi lintasan karsinogenesis.

Ketidakseimbangan Hormonal
Tingginya rasio plasma hormon TGF-β, yang merupakan regulator pada proses penyembuhan luka, akan meningkatkan produksi ROS pada fibroblas, serta diferensiasi fibroblas menuju fenotipe miofibroblas.

Keturunan
Keturunan (genetik) merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan kanker. Orang tua yang terkena kanker dapat menyebarkan kepada anaknya, akan tetapi tidak semua jenis kanker dapat diturunkan.

Letak kerusakan DNA yang dialami
Ada 2 macam letak mutasi yang memicu terbentuknya kanker, yaitu mutasi pada gen-gen onkogen dan mutasi pada gen-gen pensupresi tumor. Mutasi pada gen pensupresi tumor lah yang biasanya memicu penurunan kanker. Hal tersebut disebabkan karena zigot yang mengalami mutasi pada gen onkogen biasanya tidak dapat bertahan hidup sehingga tidak dapat diturunkan.

Itulah ringkasan singkat mengenai pengertian penyakit kanker dan faktor risikonya. Semoga bermanfaat

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker
Read More --►

Jumat, 30 Mei 2014

Pengertian Campak, Gejala Pencegahan dan Pengobatan

Pengertian Penyakit Campak Gejala dan Pengobatan
Pengertian Penyakit Campak, Penyebab, Gejala  dan Pengobatan. Penyakit Campak atau disebut juga Rubeola, Campak 9 hari, measles dan dibeberapa daerah disebut sebagai tampek, dabaken atau morbili adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Campak sangat menular dan gejalanya ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyebab penyakit ini adalah karena infeksi virus campak golongan Paramixovirus.


Penyakit ini menular melalui udara ataupun kontak langsung dengan penderita, seperti melalui percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Jika seseorang pernah menderita campak, maka biasanya dia akan kebal terhadap penyakit ini.

Penyebab

Campak disebabkan oleh virus campak paramiksovirus. Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.

Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: 
  1. Bayi berumur lebih dari 1 tahun
  2. Bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
  3. Remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.


Gejala

Gejala campak akan mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, dengan gejala-gejala seperti :
  1. Panas badan
  2. Nyeri tenggorokan
  3. Hidung meler ( Coryza )
  4. Batuk ( Cough )
  5. Bercak Koplik
  6. Nyeri otot
  7. Mata merah ( conjuctivitis )

Kemudian 2-4 hari muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam atau kemerahan di kulit yang terasa agak gatal, ini muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan kaki, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.

Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.

Gejala lain seperti demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani istirahat. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik. Maka dari itu harus berjaga-jaga. Disarankan selama sekurang-kurangnya 4 hari setelah ruam muncul penderita tidak boleh keluar rumah (diasingkan).

Pencegahan

Pencegahan penyakit ini dengan diberikan vaksin. Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.

Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Selain pencegahan diatas, bagi yang sudah terkana campak disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Campak
Read More --►

Kamis, 29 Mei 2014

Pengertian Penyakit Amandel, Gejala Penyebab dan Pengobatan

pengertian penyakit amandel, pencegahan dan pengobatan
Pengertian Penyakit Tonsilitis, Gejala Penyebab dan Pengobatan. Penyakit Amandel atau yang biasa disebut dengan Radang amandel dalam bahasa Inggris tonsillitis adalah infeksi pada amandel yang kadang mengakibatkan sakit tenggorokan dan demam. Ini muncul ketika terjadi kerusakan pada permukaan selaput lender. Jika parah ini dapat merusak jaringan amandel.


Jika penyakit ini sudah parah, maka harus dilakukan pembedahan, namun para ahli masih belum satu pendapat mengenai kapan amandel harus dibedah. Umumnya literatur klinik membagi indikasi pembedahan radang amandel (tonsilektomi) atas 2 yaitu:
  1. Absolut (mutlak: harus dibedah)
  2. Relatif (tidak mutlak: sebaiknya dibedah)

Penyebab

Radang amandel atau tonsillitis disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Penyebab umum sebagian besar tonsilitis adalah virus :
  1. Adenovirus
  2. Rhinovirus
  3. Influenza
  4. Coronavirus
  5. RSV.
  6. virus Epstein-Barr
  7. herpes simpleks virus
  8. cytomegalovirus
  9. HIV

Penyebab umum kedua adalah bakteri. Bakteri penyebab umum paling adalah Group A-hemolitik streptokokus β ( GABHS ), yang menyebabkan radang tenggorokan. Bakteri penyebab umum termasuk:
  1. Staphylococcus aureus
  2. Streptococcus pneumonia
  3. Mycoplasma pneumonia
  4. Chlamydia pneumonia
  5. Pertussis
  6. Fusobacterium
  7. Difteri
  8. Sifilis
  9. Gonore

Proses Masuknya Virus dan Bakteri Penyebab Amandel

Virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut dan disaring di amandel. Dalam amandel, sel-sel darah putih dari sistem kekebalan tubuh melakukan sebuah serangan yang membantu menghancurkan virus atau bakteri, dan juga menyebabkan peradangan dan demam. Infeksi juga mungkin ada di tenggorokan dan sekitarnya, menyebabkan peradangan pada faring. Ini adalah area di bagian belakang tenggorokan yang terletak di antara dalam kotak suara dan tonsil. Tonsilitis dapat disebabkan oleh bakteri streptokokus Grup A, mengakibatkan radang tenggorokan. Viral tonsillitis mungkin disebabkan oleh berbagai virus seperti virus Epstein-Barr (penyebab infeksi mononucleosis ) atau adenovirus. Kadang-kadang, tonsilitis disebabkan oleh infeksi dari spirochaeta dan Treponema, dalam hal ini disebut angina Vincent atau-Vincent angina Plaut.

Gejala

Peradangan yang akut (baru), ditandai dengan nyeri menelan (odinofagi), dan tidak jarang disertai demam. Sedangkan yang sudah menahun biasanya tidak nyeri menelan, tapi jika ukurannya cukup besar (hipertrofi) akan menyebabkan kesulitan menelan (disfagia). Gejala yang paling mencolok adalah kesulitan dalam menelan makanan serta memblokir jalannya udara atau oksigen yang masuk kedalam tubuh.
Gejala umum radang amandel atau tonsilitis adalah:
  1. Amandel bengkak dan merah
  2. adanya lapisan bercak putih atau kuning pada amandel
  3. leher bengkan dan kaku
  4. terasa nyeri dan biasa sampai terasa ke telinga
  5. sakit tenggorokan
  6. sulit menelan makanan
  7. batuk
  8. sakit kepala
  9. sakit mata
  10. tubuh sakit
  11. demam
  12. panas dingin
  13. hidung mampet

Tonsilitis akut disebabkan oleh bakteri dan virus dan akan disertai dengan gejala sakit telinga saat menelan, bau mulut, dan air liur bersama dengan radang tenggorokan dan demam. Dalam hal ini, permukaan tonsil mungkin merah cerah atau memiliki lapisan putih keabu-abuan, sedangkan kelenjar getah bening di leher akan membengkak.

Pengobatan

Jika radang amandel yang disebabkan oleh kelompok A streptococus, maka antibiotik yang berguna dengan penisilin atau amoksisilin baris pertama sedang. Sebuah macrolide seperti eritromisin digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Pasien yang gagal terapi penicilin mungkin menanggapi pengobatan yang efektif terhadap lactamse memproduksi bakteri-beta seperti klindamisin atau amoksisilin-klavulanat. Aerobik dan anaerobik beta penghasil laktamase bakteri yang berada di jaringan tonsil dapat "perisai" kelompok A streptokokus dari penicilins. Bila tonsilitis disebabkan oleh virus, panjang penyakit tergantung pada virus mana yang terlibat. Biasanya, pemulihan lengkap dibuat dalam satu minggu, namun dapat berlangsung selama dua minggu. kronis kasus dapat diobati dengan tonsilektomi (operasi pengangkatan tonsil) sebagai pilihan untuk pengobatan.

Selain itu dapat juga dilakukan perawatan terhadap amandel seperti :
  1. Banyak minum air putih dan sari buah-buahan, terutama selama demam
  2. Jangan minum minuman dingin, sirup makanan yang diawetkan dan diasinkan dan manisan
  3. Berkumur dengan air garam hangat sebanyak 3 kali sehari
  4. Kompres leher dengan air hangat

Pencegahan

Virus penyebab amandel ini bersifat menular. Untuk mencegah terserang penyakit ini dapat dilakukan pencegahan berikut ini :
  1. Mencuci tangan dengan baik dan sering dengan cairan anti bakteri
  2. Hindari berbagi makanan, minuman dan alat – alat makanan dengan penderita

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Radang_amandel
http://penyakitamandel.com/

http://medicastore.com/penyakit/57/Tonsilitis_(Radang_Amandel).html
Read More --►

Selasa, 27 Mei 2014

Pengertian Cacar air, Gejala Pencegahan dan Pengobatan

pengertian cacar air gejala pencegahan dan pengobatan
Pengertian Penyakit Cacar air, Gejala Pencegahan dan Pengobatan. Cacar air atau Varicella simplex adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster yang merupakan anggota dari keluarga virus herpes. Penyakit ini disebarkan secara aerogen. Cacar air adalah penyakit yang umum menyerang anak-anak. Meskipun bukan merupakan penyakit yang serius, namun dibutuhkan perawatan khusus untuk perawatannya.


Sebenarnya cacar air dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya serangan berulang saat individu tersebut mengalami panurunan daya tahan tubuh. Orang yang terkena cacar akan terlihat dalam tempo 2 sampai 3 pekan. hal ini bisa ditandai dengan badan yang terasa panas.

Gejala

Gejala awalnya akan terasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di anggota gerak dan wajah.

Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi.

Lain halnya jika lenting cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda, bekas cacar air akan lebih sulit menghilang.

Perawatan

Orang yang terkena cacar sebaiknya di karantina. Selama 5 hari setelah ruam mulai muncul dan sampai semua lepuh telah berkeropeng. Selama masa karantina sebaiknya penderita tetap mandi seperti biasa, karena kuman yang berada pada kulit akan dapat menginfeksi kulit yang sedang terkena cacar air. Untuk menghindari timbulnya bekas luka yang sulit hilang sebaiknya menghindari pecahnya lenting cacar air.
Ketika mengeringkan tubuh sesudah mandi sebaiknya tidak menggosoknya dengan handuk terlalu keras. Untuk menghindari gatal, sebaiknya diberikan bedak talk yang mengandung menthol sehingga mengurangi gesekan yang terjadi pada kulit sehingga kulit tidak banyak teriritasi.

Perawatan yang dilakukan ketika terkena cacar air :
  1. Hindari menggosok atau menggaruk cacar yang terjadi akibat penyakit cacar sebab dapat meninggalkan bekas luka yang buruk.
  2. Potong kuku Anda agar kulit Anda aman saat tergaruk.
  3. Kenakan pakaian yang longgar untuk menghindari lecet kulit.
  4. Cobalah berendam di dalam bak mandi yang berisi tepung maizena. Hal ini mampu menenangkan kulit Anda.
  5. Hindari paparan sinar matahari yang terlalu tajam dan udara yang lembab sebab hal ini akan membuat cacar Anda menjadi parah.
  6. Gunakan krim yang dianjurkan dokter untuk meredakan cacar Anda.
  7. Untuk yang memiliki kulit sensitif dapat juga menggunakan bedak talk salycil yang tidak mengandung mentol.
  8. Pastikan anda juga selalu mengonsumsi makanan bergizi untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit itu sendiri.
  9. Konsumsi buah- buahan yang mengandung vitamin C seperti jambu biji dan tomat merah yang dapat dibuat juice.

Pencegahan

Untuk mencegah terkena penyakit cacar air akan dilakukan imunisasi. Imunisasi tersedia bagi anak-anak yang berusia lebih dari 12 bulan. Imunisasi ini juga dianjurkan bagi orang di atas usia 12 tahun yang tidak mempunyai kekebalan ataupun mereka yang belum pernah terkena penyakit ini, karena orang dewasa yang terkena penyakit ini, biasanya akan lebih parah dan kadang-kadang dapat pingsan. Bagi yang telah berusia di atas 50 tahun sebaiknya divaksinasi ulang.

Pengobatan

Penyakit cacar dapat diberi penggobatan "Asiklovir" berupa tablet 800 mg per hari setiap 4 jam sekali (dosis orang dewasa, yaitu 12 tahun ke atas) selama 7-10 hari dan salep yang mengandung asiklovir 5% yang dioleskan tipis di permukaan yang terinfeksi 6 kali sehari selama 6 hari. Larutan "PK" sebanyak 1% yang dilarutkan dalam air mandi biasanya juga digunakan.

Setelah tahap penyembuhan lakukan perawatan berikut ini :
  1. Perawatan bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal setelah mengonsumsi obat
  2. Konsumsi vitamin C plasebo ataupun yang langsung dari buah-buahan segar seperti juice jambu biji, juice tomat dan anggur
  3. Vitamin E untuk kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo, minuman dari lidah buaya, ataupun rumput laut. Penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra saat luka sudah benar- benar sembuh diperlukan untuk menghindari iritasi lebih lanjut.

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Cacar_air

http://www.merdeka.com/sehat/lakukan-6-hal-ini-saat-terkena-cacar-air.html 
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving