Mudjoko

Laki-laki, XX tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>tritunggaljayakudus.blogspot.com
=>tritunggaljaya-kudus.blogspot.com
=>tritunggal-jayakudus.blogspot.com
=>mudjoko.kds@gmail.com
::
Start
Mudjoko™ Kangmas Djoko
Shutdown

Navbar bawah

Cari Blog Ini

Kamis, 31 Maret 2011

Remeh dan Kerdil

Aku mengalami kehidupan yang remeh yang dihuni oleh penduduk kerdil.
Aku warga dari suatu negara yang sangat penuh berisi segala sesuatu yang remeh-remeh, dengan para penghuni yang sangat mengagumi kekerdilan.
Aku rakyat dari suatu pemerintahan kerdil yang menjalankan periode-periode remeh.
Aku bagian dari perjalanan sejarah suatu mesyarakat kerdil yang sangat sibuk menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang remeh.



Aku dilingkupi oleh kebudayaan kerdil dengan perilaku-perilaku yang remeh.
Oleh ilmu-ilmu remeh yang disangka kehebatan oleh para pemuja kekerdilan.
Oleh pembangunan remeh yang menghasilkan bangunan-bangunan kekerdilan.
Oleh pertimbangan-pertimbangan peradaban yang remeh untuk berpanjang lebar memperjuangkan monumen-monumen kekerdilan.

Oleh ideologi-ideologi besar yang semakin diterapkan semakin memperjelas keremehan dan kekerdilan pelakunya.
Oleh karya-karya remeh yang penciptanya merasa besar sehingga kerdil.
Oleh tayangan-tayangan remeh yang pembuatnya sangat membangggakannya dan memerlukan puluhan tahun serta penderitaan di akhir kehidupan untuk memahami yang mereka lakukan adalah kekerdilan.

Oleh remehnya kekerdilan kepemimpinan.
Oleh kerdilnya organisasi dan institusi remeh.
Oleh produksi kerdil dan konsumsi remeh.
Oleh sekolahan kerdil dan gelar-gelar remeh.
Oleh diskusi kerdil dan ceramah remeh.
Oleh cita-cita hidup yang remeh yang disangka kehebatan sehingga satu persatu kaki kekerdilannya tersandung batu zaman.


Bahkan oleh perilaku ibadah dengan penghayatan kerdil an perjuangan yang pijakannya adalah keremehan sehingga goalnya hanya dua: kekerdilan atau keremehan.
Oleh suatu bangsa yang sangat bergembira dan menikmati segala yang remeh-remeh. Dan yang paling remeh dari segala yang remeh itu adalah bahwa kami semua sama sekali tidak mengerti bahwa itu semua adalah remeh.
Lebih remeh lagi karena kami marah kalau ada yang menyebut kehidupan kami sangat bergelimang keremehan-keremehan...
Read More --►

Artikan Sendiri Maknanya, Saya Juga Bingung.......

Konon ada seekor rubah yang bertemu dengan seekor kelinci muda di hutan. Kelinci berkata : "Hewan apakah kamu?" Rubah berkata : "Aku rubah, dan aku bisa memakanmu jika aku mau". "Bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu rubah?" tanya kelinci. Rubah tidak tahu harus mengatakan apa, sebab sebelumnya kelinci selalu lari  kan pertanyaan semacam itu.

Lalu kelinci berkata : "Jika kamu bisa menunjukkan padaku bukti tertulis bahwa kamu seekor rubah, aku akan mempercayaimu."

Maka rubah pun berlari mendatangi singa, yang memberinya selembar sertifikat bahwa dia seekor rubah. Ketika dia kembali ke tempat kelinci itu menunggu, rubah mulai membaca dokumen tersebut. Dia menjadi begitu gembira sehingga dia mengamati terus paragraf-paragraf yang tertulis disitu dengan kegembiraan yang tidak ada habisnya. Sementara itu setelah mendengarkan inti  pesan yang tertulis mulai dari baris pertama, kelinci berlari masuk ke liang persembunyiannya dan tidak pernah muncul kembali.

Rubah kembali ke sarang singa, dimana dia melihat seekor kijang sedang berbicara dengan singa itu. Kijang itu berkata : "Aku ingin melihat bukti tertulis bahwa kamu seekor singa......."

Singa berkata : "Waktu aku tidak lapar, aku tidak perlu repor-repot. Tapi kalau aku sedang lapar, kamu tidak membutuhkan tulisan apa pun."

rubah maskolis

Rubah berkata kepada singa : "Mengapa kamu tidak menyuruhku melakukan itu, waktu aku minta sertifikat untuk kelinci?"

"Kawanku tercinta," kata singa. "Mestinya kamu bilang bahwa sertifikat itu adalah permintaan dari kelinci. Kupikir itu pasti dari seorang manusia bodoh, yang dari mereka sebagian hewan goblok ini mempelajari hobi konyol ini."
Read More --►

Selasa, 15 Maret 2011

Metode Kepahlawanan

Ada tiga metode dasar untuk menjadi pahlawan. Pertama, ungkapkan sesuatu yang kritis namun tidak sampai ke tingkat berbahaya, sehingga bisa dimuat di koran. Kedua, kurangi kadar kesaktianmu di dalam melakukan gerakan-gerakan sosial, sehingga engkau bisa ditangkap atau ditabrak oleh kekuasaan. Ketiga, dekatkan dirimu kepada jaringan hero maker, alias lembaga pencipta pahlawan.

pahlawan maskolis

Kalau kau omong apa adanya, media tidak akan memuatnya, sehingga semua orang menganggapmu tidak berani omong apa-apa. Kalau gerakan sosialmu tidak tersentuh, engkau tidak akan terdaftar sebagai orang yang ditindas, sehingga tidak akan dibela oleh siapapun.

Tetapi yang alhamdulillah adalah kalau engkau tidak ingin menjadi pahlawan dan eksistensimu tidak bergantung pada apapun. Harkat kemanusiaan dan harga dirimu hanya ditentukan oleh tingkat manfaat kemanusiaanmu, baik diketahui oleh manusia ataupun tidak, baik diungkapkan atau tersembunyi.
Read More --►

RW KESEDIHAN RT KEBUNTUAN

Kalau kita sudah berada di pinggir sungai, atau apalagi sudah terlanjur memasukkan kaki ke tepiannya, kayaknya harus kita perjelas apa niat kita yang sebenarnya. Apakah kita memang akan menyeberangi sungai, ataukah sekedar mau bermain-main air di tepian sungai. Kalau mau menyeberangi sungai, sebaiknya kita pilih apakah akan kita gunakan perahu, jembatan, gethek, ataukah kita akan melompat untuk sampai ke seberang sungai. Kita juga harus perhitungkan berapa lebar dan berapa dalam sungai, apa kendala dan tantangan ketika menyeberangi sungai, dan seterusnya.


Kalau ketentuan dan pilihan itu tidak kita lakukan, sebaiknya kita niati saja bermain-main air, sekedar untuk belajar berenang dan mengendalikan perahu. Jangan sampai orang-orang di sekitar sungai menyangka kita akan benar-benar menyeberang dan menanti-nanti kapan kita benar-benar tiba di seberang sungai. Orang-orang itu bertempat tinggal di kampung kekecewaan, di RW kesedihan, dan mungkin juga di RT kebuntuan. Kalau bisa jangan lagi kita tambahi KTP mereka dengan Rumah Keputusasaan.
Read More --►

Senin, 14 Maret 2011

DARI HATI KE HATI

Yang kita lakukan ini adalah dialog dari hati ke hati. Cara hati mengungkapkan dan mendengarkan sesuatu itu macam-macam. Terkadang menggunakan mulut dan memakai kata-kata, di saat lain cukup dengan raut muka dan sorot mata, atau bahkan ungkapan hati cukup dengan bisu dan sunyi: hati lain sudah langsung menangkapnya.

maskolis

Ungkapan hati yang sunyi di antara kita tidak bisa dihalangi oleh apapun. Ungkapan melalui sorot mata dan raut muka memerlukan pertemuan langsung atau melalui kamera. Tapi yang punya kamera tidak mungkin menyorot tampang saya kalau hanya membisu dan bengong. Jadi harus menggunakan mulut dan kata-kata. Tapi penggunaan mulut dan kata-kata bisa terhalang oleh tembok teknologi, tembok finansial, tembok rasa takut, dan terutama tembok kekuasaan.

Jadi kalau ungkapan hati saya tidak bisa sampai kepada Anda melalui kamera dan kata-kata, saya yakin hati Anda yang bisu sesungguhnya tetap bertegur sapa dengan ungkapan hati saya melalui kesunyian yang tanpa kamera dan media apapun.
Read More --►

Apa Besok Pagi Kita Belum Mati ?

Apakah kita akan mati? 
Apakah kita akan segera sampai ke garis sakaratul maut ?

Lebih rasional kalau pertanyaannya kita balik: apakah kita akan tidak mati? Siapakah yang bisa memastikan bahwa nanti sore atau besok pagi, atau bahkan lima menit yang akan datang, ia pasti akan masih hidup? Puncak ilmu orang hidup adalah mengenai maut. Yang paling masuk akal bagi segala perjalanan ilmu manusia adalah kesadaran bahwa sewaktu-waktu akan mati. Pengetahuan yang paling substansial dan primer adalah bahwa sekarang juga setiap manusia harus siap untuk berakhir hidupnya. Bahwa jisim (badan) manusia tidak hidup abadi.

maskolis

Seorang pengusaha bisa menuliskan rancangan-rancangan bisnisnya pada skala jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, bahkan diproyeksikan sampai 50 tahun ke depan. Akan tetapi kalimat awal dari teks rancangannya sesungguhnya berisi kalimat : Dengan catatan bahwa selama jangka waktu tersebut ia belum meninggal dunia.

Seorang politisi sepenuhnya berhak mentargetkan keinginannya untuk duduk di kursi kepresidenan. Seorang sarjana mutlak diperbolehkan meniti karirnya sampai sejauh-jauhnya dan setinggi-tingginya. Tetapi semua itu dengan catatan bahwa berlakunya hanya kalau mereka pasti masih hidup. Itu namanya ilmu orang tua.
Read More --►

Sistem Nilai Apakah yang Kita Pilih

Benarkah yang salah selalu adalah ia dan mereka? Sementara yang benar pasti kita dan saya? Benarkah yang harus direformasi selalu adalah yang di situ dan di sana, dan bukan yang di dalam diri kita sendiri?

maskolis 1998

Mungkinkah reformasi eksternal dikerjakan tanpa berakar pada reformasi internal? Apakah sesungguhnya yang sedang berlangsung di dalam syaraf-syaraf hati kita serta sel-sel otak kita?

Sistem nilai apakah yang sesungguhnya kita pilih untuk mengerjakan gegap gempita yang kita sebut reformasi ini? Demokrasi, sosialisme, Jawaisme, Islam, Protestanisme, Yahudisme, serabutanisme, kebencian, dendam, atau apa?
Read More --►

Menghapus Blog Yang Kita Ikuti (Follow)

Pernahkah terbayang di benak anda jika kita sudah terlalu banyak mengikuti (follow) blog teman lain? Terkadang kita mengikuti blog hanya sekedar untuk menyenangkan hati si empunya karena sudah meminta lewat kotak komentar atau buku tamu, misalnya "eh... follow me dong....!" Ya, basa-basi retoris gitu... Hal ini membuat kita sulit untuk memilih blog mana sebagai prioritas mana yang bukan. 

Nah, pada postingan kali ini saya akan membahas bagaimana cara menghapus salah satu Blog dari list blog yang kita ikuti. Jika temen-temen ada yang mau menghapus salah satu blog yang kita ikuti, berikut langkah-langkahnya
  1. Seperti biasa masuk ke Dashboard blog kita dengan cara login ke Blogger
  2. Kemudian setelah itu tekan tombol manage pada bagian Daftar Bacaan


  3. Lalu tekan tombol setelan/setting pada pada nama blog yang akan kita hapus



  4. Setelah muncul tab/window baru pada browser anda, klik tombol Google kemudian masuk dengan alamat email anda


  5. Setelah itu anda akan kembali ke halaman Kelola blog yang saya ikuti, tekan kembali Setelah/Setting pada halaman tersebut
  6. Akan muncul di tab/window baru dan masuk ke halaman Profil anda, untuk menghilangkan blog yang kita ikuti kita tinggal tekan berhenti ikuti situs ini


  7. Kemudian akan muncul kotak konfirmasi apakah anda akan menghapus blog tersebut dari list blog yang kita ikuti


  8. Sekarang blog yang anda ikuti tersebut sebelumnya telah terhapus dari list blog yang anda ikuti
Gimana, mudah kan? Demikian tadi penjelasan bagaimana cara untuk menghapus blog yang kita ikuti. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.
Read More --►

Jumat, 11 Maret 2011

Kenapa Saya Gagal Blogging?

gagal blogging
Saat ini jumlah Blogger terus mengalami peningkatan yang signifikan. Selain saya dan anda, diluar sana masih ada lagi jutaan Blogger yang beredar. Banyak yang terus bertahan dan eksis karena berbagai alasan. Namun tidak sedikit pula yang mundur teratur, tidak terawat serta hilang entah ditelan apa. Mereka ini bisa disebut juga sebagai “Blogger yang gagal”. Mungkin anda pernah depresi dalam menjalani aktivitas blogging, entah karena tidak ada trafik maupun sesuatu yang dihasilkan. Hampir setiap blogger pasti pernah mengalaminya, beberapa diantaranya ada yang sukses, dan kebanyakan tidak mencapai apa yang mereka inginkan. Berikut ini akan saya akan bahas beberapa sebab yang paling umum dari beberapa kemungkinan yang menyebabkan anda gagal dalam mencapai target anda.
  1. Terlalu banyak ide
  2. Jujur saya pribadi sering mengalami hal ini, punya banyak ide yang menurut saya lumayan bagus. Namun sayang, karena terlalu banyak ide, saya jadi sulit untuk menentukan mana yang ingin direalisasikan terlebih dahulu. Hidup ini penuh pengorbanan, jadi pasti harus ada yang dikorbankan. Catat saja ide anda, dan mulai pilih mana yang harus diprioritaskan. Jika memang ada ide yang tidak bisa kita realisasikan, kenapa kita tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk mewujudkannya?
  3. Tidak konsisten
  4. Anda sudah membuat jadwal kapan anda harus membuat postingan, memberi komentar, membangun backlink, submit ke RSS ataupun hal-hal lainnya. Namun anda bertahan hanya beberapa hari saja, setelah seminggu anda mulai merasa bosan dan sudah tidak mengikuti jadwal lagi. Jika anda ingin sukses, konsistensi adalah salah satu kuncinya.
  5. Terlalu sering mengotak-atik blog
  6. Anda penasaran dengan tutorial yang ditawarkan blog ini, kemudian blog yang itu menawarkan tutorial yang baru, anda tertarik dan mencobanya satu-satu. Memang tidak ada salahnya, namun hal ini menghabiskan waktu anda. Saran saya, gunakan widget yang memang perlu dan simpan saja widget-widget yang keren yang lainnya. Toh, postingan blog tersebut tidak akan hilang kok
  7. Terlalu banyak belajar
  8. Jangan diartikan yang lain dahulu. Belajar itu baik, tapi kalau kita terlalu sering belajar, kapan kita bisa mempraktikkannya? Faktanya, semua ebook yang beredar di internet hanya membahas hal yang sama, entah itu tentang SEO, Adsense, Backlink, ataupun Make Money Online. Semua hanyalah ebook yang disusun dengan cara yang berbeda namun dengan inti yang sama. Jika anda sudah mengerti basic dari semuanya, anda hanya perlu praktik dan praktik.
  9. Termotivasi dengan uang
  10. Jika anda blogging hanya untuk uang, ketika sampai pada bulan ketiga dalam kehidupan blog dan anda hanya mendapakan sedikit uang atau bahkan tidak sama sekali, tantangannya adalah apakah anda masih disana pada bulan keempat dan seterusnya. Ingat, semua butuh proses. So, fokus pada motivasi dalam menikmati proses dalam menulis topik yang anda kuasai dan berinteraksi dengan orang lain yang sama ketertarikannya dengan anda. Anda akan membutuhkan tenaga yang lebih dalam mengarungi perjalanan blog anda serta menjaganya sampai benar-benar mencapai hasil yang bagus secara finansial.
  11. Memulai blogging tentang bagaimana menghasilkan uang
  12. Awalnya saya juga seperti itu, tapi saya mau berubah dan mulai belajar bagaimana blogging yang benar. Sangat lucu ketika anda, atau saya, berbicara bla bla bla tentang bagaimana menghasilkan uang dari blog. Padahal anda belum atau masih sedikit dalam mendapatkan uang dari blog. Bukankah diluar sana masih banyak yang “berhak” membicarakannya? So, Jangan mulai sebuah blog tentang menghasilkan uang dari blogging atau menghasilkan uang online kecuali anda sudah membuat uang yang bagus dari blog atau bisnis internet. Tidak jadi masalah anda blogging tentang sebuah topik yang anda nikmati dan mungkin anda belum ahli disana, tapi jika ada ratusan blog yang mirip dengan milik anda hanya satu yang akan mendapatkan kredibilitas dengan baik. Kredibilitas ini bisa didapatkan dari pembuktian atau lewat kualitas dari informasi yang anda berikan. Jika kelihatannya sulit, jangan mempersulit hidup anda. Pindahlah dan temukan topik yang bisa anda dominasi.
  13. Memilih niche yang salah
  14. Sekali lagi anda boleh memilih topik apa pun yang anda minati, anda kuasai, atau menurut anda menarik. Namun blogging tidak hanya tentang selera anda tapi juga selera calon audien anda. Saya katakan, anda tidak akan pernah tahu sampai anda mencoba, tapi jika topik anda tidak pernah disebutkan dimanapun – tidak ada forum, tidak ada website, alias kosong – jangan asumsikan ini adalah niche yang belum digarap. Mungkin saja tidak ada audien.
  15. Melompat dari blog ke blog
  16. Saya heran dengan banyaknya blogger bagus disana yang belum digarap dengan baik kemudian tiba-tiba mulai blog lain dan membagi output dia ke dua blog tadi. Atau lebih buruk lagi, mereka menghentikan blog bagus mereka ketika membangun momentum demi memulai blog lain. Anda mungkin termasuk kategori blogger yang bagus karena bisa mengisi konten blog anda dengan bagus. Oleh karena itu, jika anda ingin blogging jangka panjang anda harus fokus pada satu blog untuk memberikan kesempatan untuk sukses.
  17. Berfikir blogging dapat menghasilkan Uang Dengan Mudah
  18. Banyak orang yang baru masuk blogosphere berpikir bahwa dalan satu jam atau satu dua hari mereka akan menjadi terkenal dan mendapatkan beberapa ribu dolar sebulan atau lebih. Banyak yang memberi advokasi blogging paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan full-time, tapi itu tidak terjadi dalam semalam. Jika anda berpikir hal itu akan terjadi pada anda dalam satu minggu, satu bulan atau bahkan enam bulan, anda akan kecewa. Itu membutuhkan kerja, khususnya pada permulaan, untuk membangun blog yang sukses, tapi ada balasan yang membuatnya patut diperjuangkan. Jika anda sibuk saat ini dan tidak menyiapkan ruang untuk regular, dan saya maksudkan pekerjaan rutin untuk blog anda, anda mungkin belum saatnya untuk masuk ke dalam permainan ini.
Di atas adalah beberapa contoh penyebab kemungkinan anda gagal, dan banyak diantara blogger yang pernah mengalaminya, ini sangat wajar, mengingat banyak diantara kita yang ingin hasil yang lebih cepat dan maunya instan. Postingan ini bisa anda jadikan sebagai renungan, silahkan pahami kembali makna dari point penting diatas.
Read More --►

Islam itu tidak menyakiti siapa-siapa

Islam itu tidak menyakiti siapa-siapa
Islam itu kalau ada paku ditengah jalan dipinggirkan
Islam itu adalah kalau ada barang mubazir didaya gunakan
Islam adalah tidak mengganggu tetangga
Islam adalah tangan ini tidak boleh nganggur, kaki tidak boleh nganggur,
tidak boleh ada barang mubazir

islam maskolis

Malas itu makruh hukumnya, tidak boleh ada malas, pikiran harus cerdas dipakai
terus, tangan kaki bekerja terus berkeringat.
Islam itu tidak gampang curiga, gampang su'udhon dan gampang marah
Kalau petani, Islam adalah memelihara kesuburan tanah, jangan terus menerus ditanami
Kalau tukang ojek, Islam adalah jadikan penumpangmu merasa aman kalau menaiki ojekmu.
Kalau anda jualan di toko atau warung, Islam adalah orang yang beli itu merasa
aman dan percaya pada apa yang anda jual.
Read More --►

Kamis, 10 Maret 2011

Pekerjaan Yang Mulia

Barangkali...... pekerjaan seperti yang dilakukan gadis manis di bawah tidak pernah dan mungkin juga tidak akan pernah Anda bayangkan sebagai pekerjaan yang Anda idam-idamkankan. Mungkin juga Anda merasa malu terhadap pekerjaan seperti ini dan akan merasa tersiksa melakukannya.

Ini adalah foto-foto gadis maskot yang tersebar di situs-situs forum internet di China ini telah menjadi diskusi publik. Sang pengirim yang mengaku berprofesi sebagai fotografer, mengabadikan kegiatan gadis maskot ini secara diam-diam saat berlangsung Guangzhou Auto Show tahun lalu.

Tidak disebutkan siapa nama gadis maskot ini. Penulis hanya mengatakan sang gadis maskot tidak terlalu manis dibandingkan para model yang berpose bersama mobil-mobil terbaru saat pameran tersebut. Gadis ini hanya tidak beruntung.

Si juru foto juga mengatakan dirinya merasa tersentuh dengan gadis yang bekerja selama enam jam itu. Dengan beban berat di kepalanya dan balutan baju tebal yang panas, gadis ini harus mau menemani permintaan foto bersama setiap orang.

Kondisi itu jelas berbeda dengan pekerjaan para model cantik bertubuh semampai yang dibayar mahal untuk pose bersama mobil-mobil terbaru. Apalagi dalam pekerjaannya, sang model bisa ikut terkenal karena akan dipampang pada majalah-majalah dan internet.

“Awalnya saya mengira orang di balik topeng besar itu, yang melayani ajakan pemotretan setiap orang yang memintanya, adalah pria,” kata sang pemotret yang menuliskan ceritanya dalam posting-nya di forum internet.

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

Seorang model melintasinya. Saya melihat ada kerinduan di gadis maskot untuk bisa menjadi seperti Cinderella…

maskolis gadis maskot

Sebuah pemandangan kontras antara sebuah gaya hidup dan keterpaksaan hidup. Mungkin keduanya sedang berada dalam realita. Tapi realita gadis maskot tak bisa unjuk glamor.

maskolis gadis maskot

maskolis gadis maskot

Kedua foto akhir ini mungkin akan membuat perubahan baginya. Foto-foto yang saya muat ini mudah-mudahan membuatnya terkenal. Saya pun terkesan pada bagian ini. Saya tidak tahu, apakah dia membasuh peluh atau air mata. Inilah kerja keras seorang anak yang harus kita beri apresiasi.
Read More --►

Rabu, 09 Maret 2011

Kepada Siapakah Engkau Mengeluh?

Kepada siapakah engkau mengeluh?
Kepangkuan siapa engkau menumpahkan airmata?
Pintu rumah siapa yang engkau ketuk untuk meminta tolong?
Kalau hari janji telah tiba untuk membayar utang, padahal beras di dapur pun sudah menipis.

Apakah engkau akan mengetuk rumah para artis dan bintang film yang uangnya berlebih dan credit card-nya bertumpuk-tumpuk?
Kalau untuk memperoleh pekerjaan dua hari lagi engkau harus menyediakan ratusan ribu atau sekian juta rupiah uang terobosan: Apakah engkau akan bertamu ke rumah-rumah para eksekutif yang tinggal sekampung denganmu?
Kalau istrimu hendak melahirkan, apakah engkau bisa meminjam kendaraan tetanggamu yang rumahnya berpagar tinggi itu, atau bisakah engkau mencegat kendaraan-kendaaan pribadi yang kosong yang lalu-lalang di jalan umum?
Kalau nasibmu ditimpa gludug "rasionaliasi" alias di-PHK-kan, bisakah engkau lapor kepada Pak RT, Pak RW, Pak Kadus, Pak Kades atau para pamong lainnya yang merupakan pengayorn masyarakat?
Kalau dalam suatu kasus atau konflik di kantor engkau tercampakkan karena engkau tak memiliki kekuasaan, backing dan relasi akankah engkau menumpahkan airmata di kantor Polsek atau Koramil?
Kalau tanah-rumahmu dan tanah rumah teman-temanmu sekampung atau sekecamatn digusur tanpa ganti rugi yang memadai setidaknya karena disunat oleh oknum-oknum pelaksananya: ke manakah engkau akan lari?
Apakah ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah?
Kantor Cabang NU?
Atau kantor Orwil ICMI Atau ke rumah KH. Zainuddin MZ?
Kalau rasa cemburu memanggang dada-mu karena melihat tetangga begitu gampang berganti-ganti mode mobil. Kalau rasa jengkel menampar-nampar perasaanmu karena meiyaksikan jumlah kendaraan pribadi memenuhi lebih dari lima puluh persen jalan-jalan di kotamu. Kalau rasa perih, sakit dendam, menikam jantung ruhanimu, karena rnenghayati perbedaan-perbedaan tingkat hidup yang mencolok, menghayati ketimpangan, kesenangan dan ketidakseimbangan.
Siapakah yang bersedia mendengarkan keluhanmu?
Pak Pendeta?
Pak Cendekiawan?
Pak Seniman?
Pak Ulama?
Pak Khatib di rumah ibadah yang kata-katanya justru harus engkau dengarkan?

Kalau hatimu bingung oleh kesumpegan ekonomi. Kalau perasaanmu gundah oleh pusingan-pusingan hidup yang bak lingkaran setan. Kalau jiwamu serasa akan berputus asa karena sedemikian sukarnya menempuh hidup yang benar. Kalau sukmamu rasanya mau copot karena himpitan-himpitan nasib yang tak tertahankan.

Ke mana dan kepada siapakah engkau rebahkan keletihamu?
Kepada rninuman. keras, ganja, arak dan joget dangdut, mengasyiki ramalan angka-angka, menghirup rasa aman yang praktis melalui pengajian-pengajian akbar?
Adakah peluang, dan tidakkah dilarang, untuk mengemukakan isi hati kita seadanya dan sejujur-jujurnya kepada Pak Lurah, Pak Polisi, Pak Kiai, Pak Menteri, Pak Ilmuwan, Pak Wakil rakyat, Pak Profesional dan lain-lain?
Kalau mernang mungkin kapan dan di mana?
Bolehkah mendambakan bahwa Pak-pak itu pernah sesekali bertanya kepadamu tentang apakah hatimu sedang bersedih, apakah ada kesulitan dan problem yang tak bisa diatasi?
Kalau tidak, lantas kepada siapa engkau nengeluh? Siapa yang bersedia menjamin bahwa engkau dan anak istrimu tidak kelaparan? Siapa yang menemanimu membanting tulang menghabiskan waktu untuk sekadar mempertahankan penghidupan?
Siapa sahabatmu di dunia ini?
Siapa pemimpin yang santun dan memberimu rasa aman?
Allah menuntun mulut kita agar mengucapkan: "Innama asykubastsi wa huzni illalah."
Aku keluhkan derita dan kesedihanku kepada Allah. Tetapi bukankah Ia telah mewakilkan diri-Nya dan tugas-tugas itu kepada kita?
Akankah kita perintahkan Allah agar mengurusi soal kenaikan harga?
Read More --►

Dua Manusia Super Di Pinggir Jalan

Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

dua manusia super

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.

“Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

“Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!” “Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.” “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”..mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.

Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Kisah-kisah mengharukan lainnya :
  1. Kisah Nyata, Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat
  2. Kisah Mengharukan Seorang Pelaku Pemerkosaan
  3. Buku Harian Sang Pramugrari yang Mengharukan
  4. Kisah Nyata Seorang Guru Jadi Pelacur Demi Anak Didiknya
Read More --►

Selasa, 08 Maret 2011

Saatnya Untuk Pulang

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.


~ Jalaluddin Rumi
Read More --►

Saya Anti Demokrasi.....!!!

maskolis anti demokrasi
Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil, harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas.  Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain  Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Baghdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massaBarat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

maskolis anti demokrasi

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri. Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.

Sumber : Buku
Emha http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia
Read More --►

Manusia Bukan Tandingan Setan

Setan pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi dan nilainya ke pori-pori kejiwaan manusia. Untuk manusia di zaman ini, hal yang dilakukan setan semacam itu bukan pekerjaan sulit karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan apa pun terhadap penetrasi setan. Juga karena manusia sudah semakin tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali setan sehingga tidak pernah secara sadar atau instingtif mengetahui apakah ia sedang dipengaruhi oleh setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi oleh setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil keputusan sebenarnya adalah setan di dalam dirinya?

setan maskolis

Tentu saja setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau jasadiyah.  Ia lebih merupakan energi atau gelombang. Sedemikian rupa manusia harus mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya, psiche-nya, roh atau rohaninya. Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia, adalah makhluk sosial, adalah warga negara Indonesia, adalah bagian dari masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah ulama, anggota parlemen, pejabat, aktivis LSM, golongan intelektual, atau apa pun.

Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku, dan elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial. Kita, pada konteks tertentu, dan itu sangat serius dan merupakan mainstream, mungkin sekali adalah boneka-bonekanya setan. Kita hanya robot yang di-remote control oleh kehendak setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan setan. Anda mungkin menganggap saya main-main retorika. Tidak. Ini sungguh-sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari sekolahan dan universitas, sebab penelitian-penelitian di wilayah itu tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang Tuhan, malaikat, Iblis, jin, dan sebagainya yang sesungguhnya merupakan wujud nyata sehari-hari kehidupan kita.

maskolis

Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: ”Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan.Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai setan.” Di dalam kitab suci disebutkan: ”Dan ketika dikatakan kepada malaikat: ‘Bersujudlah kepada Adam,’ maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai....” Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh setan:

”Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam.Hari ini saya nyatakan: tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”

Tulisan ini sekadar membukakan pintu agar manusia mulai mempelajari setan sebagai salah satu metode paling pragmatis dan efektif untuk mengenali dirinya. Sebab hanya dengan benar-benar mengenali dirinya manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat negara, sistem sosial atau apa pun. Anda semua sedang menjadi korban tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, segala yang indah-indah di layar televisi, di halaman koran, di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di panggung, di gardu, dan di manapun.
Read More --►

Kita Adalah Bangsa Yang Memang Tidak Perlu Rajin

Tahukah anda, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.

maskolis korea

Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.

Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.

Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah – itu salah besar!

Korea berhasil merebut tempat keempat pada Piala Dunia Tahun 2002

korea tim nasional

Negara kita yang adil dan makmur seperti ini........

negara kita maskolis

Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, tidak membutuhkan keuletan, tidak mau ngoyo, cukup ikut sidang-sidang kemudian bisa bikin supermarket, dan lain sebagainya. Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita, sehingga kita tidak membutuhkan pemerintahan yang baik.

Orang Korea sangat benci kepada Amerika Serikat, sehingga mereka sangat gengsi untuk memakai bahasa Inggris. Jadi semua informasi, petunjuk-petunjuk di jalan dan di mana saja hampir 99% memakai bahasa dan tulisan Korea. Dulu mereka benci Jepang karena sebagaimana kita Indonesia, mereka juga dijajah Jepang, rakyatnya diperbudak, kerajaannya dibakar habis – sampai akhirnya di kemudian hari mereka mengimpor kayu dari Kalimantan untuk bikin bangunan keraton yang dimirip-miripkan dengan aslinya.

Korea merdeka dari Jepang dua hari sebelum kita, yakni 15 Agustus 1945. Sekarang di zaman modern mereka punya sasaran kebencian yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat – meskipun tentu saja hati rakyat mereka tidak tercermin oleh sikap pemerintah mereka. Namanya juga pemerintah, tentu agak aneh kalau sepak terjangnya mirip dengan kelakuan rakyatnya.
Read More --►

Senin, 07 Maret 2011

Ketika Gandhi Kehilangan

Suatu hari, Gandhi hendak pergi ke suatu tempat dengan menggunakan kereta. Ia berlari kencang mengejar kereta yang mulai bergerak meninggalkan stasiun. Ketika ia berusaha naik ke kereta, salah satu sepatunya terlepas. Segera saja Gandhi melepas sepatu yang satunya lagi, dan melemparkannya di samping sepatu yang jatuh di rel kereta.

Melihat apa yang terjadi, Teman-temannya kaget, dan bertanya kepadanya,”Mengapa kamu melakukan itu?” Mengapa kamu buang sepatu yang sebelah lagi?”

“Aku ingin orang yang menemukan sepatu saya nanti, menemukan kedua-duanya, sehingga dia dapat mengenakannya. Kalau dia hanya menemukan sebelah saja, dia tidak bisa mengenakannya. Sementara aku… aku juga tidak bisa mengenakan yang sebelah lagi.” jawab Gandhi.

==================================================

Kesedihan dan kebahagian hanya berganti kepemilikan.
Tak usah sedih jika kehilangan.
Karena akan berbahagia dia yang menemukan.
Apakah bersedih bisa mengembalikan yang hilang?

==================================================
Read More --►

Modal Utama Manusia Untuk Menjadi Muslim Bukan Al Qur’an

“Apa bekal utama manusia untuk menjadi Muslim yang baik?”100% menjawab: “Qur’an dan Hadits”. Sungguh-sungguh sangat lama saya merindukan ada jawaban yang berbeda, dan sampai hari ini belum Allah perkenankan. Memang begitu sucinya, begitu sakral dan utamanya Kitab Suci Allah dan penuturan Rasul-Nya, sehingga Ummat Islam kebanyakan lupa pada kalimat kecil di Kitab Suci itu sendiri: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia sebagai masterpiece…” Inna khalaqnal insana fi ahsani taqwim. Karya Allah yang tertunggal dan tertinggi derajatnya bukan Malaikat, bukan Al Qur’an, melainkan manusia.

Dengan sedih terpaksa saya katakan bahwa modal utama manusia untuk menjadi Muslim bukan Al Qur’an, melainkan akal.

Tidak fair kalau bekal utama manusia untuk menjadi Muslim adalah Al Qur’an. Pertama, jaman pasca-Muhammad hingga sekarang jauh lebih singkat dibanding pra-Muhammad sejak Adam AS. Kedua, kalau Qur’an adalah modal utama, harus kita pastikan bahwa semua Nabi Rasul dan ummat manusia sebelum Muhammad bukanlah Muslim. Dengan kata lain harus kita batasi kepercayaan dan wacana Islam hanya dimulai sejak kerasulan Muhammad. Ketiga, AlQur’an bukan makhluk hidup. Ia tidak bisa menjadi subyek aktif atas proses berlangsungnya kehidupan manusia. Al Qur’an bukan pelaku perubahan, pembangunan, sejarah dan peradaban ummat manusia. Al Qur’an itu alat perubahan.

maskolis akal

Keempat, untuk menyebut secara sederhana: Al Qur’an 100% sia-sia bagi manusia yang tidak menggunakan modal utamanya sebagai manusia, yakni aktivitas akal. Al Qur’an jangan disodorkan kepada kambing, meskipun ia punya otak. Sedikit ke cabang: otak itu hardware. Untuk membuat otak melakukan pekerjaan berpikir, diperlukan software yang bernama akal. Al’aql. Akal tidak terletak, atau sekurang-kurangnya tidak berasal usul dari dan di dalam kepala manusia, melainkan berasal dari semacam mekanisme dialektika yang dinamis dari luar diri manusia, mungkin semacam gelombang elektromagnetik yang berpendar-pendar di seluruh lingkup alam semesta, namun dikhususkan menggumpal dan mengakurasi ke seputar ubun-ubun kepala setiap manusia.

Oleh karena itu prinsip utama menjalani Islam adalah ijtihad. Kalau jihad itu segala upaya perjuangan manusia menghidupi kehidupan. Ijtihad itu perjuangan intelektual. Mujahadah itu perjuangan spiritual. Ratusan kali Allah memfirmankan “Apakah engkau tidak berpikir?” “Apakah engkau tidak menggunakan akal?”. Masyarakat Barat dan Jepang Korea Cina sangat aktif melakukan ijtihad dan menguasai peradaban. Kaum Muslimin terlalu aktif bermujahadah tanpa imbangan ijtihad sehingga produknya adalah dekadensi dan inferioritas. Tetapi memang tidak mengherankan jika Ummat islam stuck dalam hal ijtihad. Alfikr itu pikiran, kata kerjanya yatafakkar, berpikir. Al-aql itu akal: bahasa Indonesia hanya kenal kata kerja “mengakali” dari kata dasar akal. Mengakali itu pekerjaan sangat mulia: ialah memandang dan memperlakukan segala sesuatu dengan daya akal. Tetapi “mengakali” dalam bahasa Indonesia adalah menipu, mencurangi, menyiasati dalam konotasi negatif.

Agak aneh Allah memerintahkan “Taatilah Allah, Rasul-Nya dan ulil amr di antara kalian”, tetapi yang terjadi adalah ketaatan kepada para penerus Rasul atau yang dianggap oleh umum atau yang menganggap dirinya penerus Rasul — namun tanpa tradisi ijtihad, sementara ulul amr, “petugas urusan-urusan” tak pernah ditegasi konteks dan subyeknya. Apakah Ulama mengurusi petani dan pertanian sehingga ditaati? Apakah Ustadz mengurusi pasar dan penggusuran sehingga dipatuhi? Apakah Kiai mengurusi, menguasai, memahami, mengerti dan mendalami teknologi, industri, ketatanegaraan, konstitusi dan hokum, pemetaan sosial masyarakat, hutan, sungai, laut, sehingga dipatuhi?

Hampir tak pernah terdengar fatwa tentang kehidupan nyata manusia dan masyarakat. Barusan ada fatwa satu tentang nuklir: cabang bilang haram, pusat bilang halal. Bagaimana kok ada organisasi cabangnya haram pusatnya halal. Bagaimana ada makhluk tak jelas Malaikat atau Setan. Ada satu lagi saya simpan fatwa tentang jual beli dang ganti rugi: mudah-mudahan jangan ada versi counter fatwa, karena fatwa itu tidak didasari konsiderasi ilmiah dan penelitian rasional apapun.

Islam tumbuh di Musholla dan Masjid, bertahan kerdil dalam kesempitan dan kejumudan. Pengadilan Agama hidup dari konflik-konflik rumahtangga, tidak berususan dengan keadilan keuangan rakyat, dengan keadilan atas sungai dan hutan, dengan keadilan politik, perekonomian, ekosistem, internet — sesekali muncul dari pintu belakang fatwa dan pernyataan keadilan halal dan haram tentang Presiden wanita haram, beberapa tahun kemudian berbalik menjadi halal berdasar sisi kepentingan yang sedang disangga.

Pemain-pemain sepakbola diidentifikasi, diuji, dianalisis dan dipilih oleh expert sepakbola, pelatih dan official. Kiai, Ulama, Ustadz diidentifikasi, diuji, dianalisis dan dipilih berdasarkan mata pandang industri dan kepentingan komersial. Orang Islam terlalu jauh meninggalkan akal sebagai modal utama kemuslimannya. Mereka salah sangka terhadap Al Qur’an, dan kurang peka memikirkan kemungkinan bahwa Iblis dan Setan sejak jaman dahulu kala sudah fasih membaca Quran dan mungkin menghapalnya, sebagai satu bagian strateginya untuk mengalahkan manusia.
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving